Menjelang bulan suci Ramadhan, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HMPS HES) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar kegiatan Kajian Keilmuan bertema “Ramadhan Tanpa Toxic, Menjaga Hati dan Jari” pada Kamis, 26 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Gedung K.H. Faqih Usman, ruang I.1.4 Fakultas Agama Islam UMP.
Kajian tersebut menghadirkan narasumber Regina Lasca Mutiya, mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, yang berbagi wawasan dan refleksi mengenai pentingnya menjaga sikap, ucapan, serta perilaku, terutama di ruang digital selama bulan Ramadhan. Acara ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam UMP serta peserta umum yang turut hadir untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang makna Ramadhan yang lebih berkualitas.
Kegiatan dimoderatori oleh Mei Wulandari, mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, yang memandu jalannya acara dengan suasana interaktif dan komunikatif. Sejak awal acara, peserta terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang disusun oleh panitia.
Acara dimulai dengan pembukaan yang berlangsung khidmat. Selanjutnya, laporan ketua panitia disampaikan oleh Muhammad Atha Mecca. Dalam laporannya, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara. Ia juga berharap kegiatan kajian ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta dalam menyambut bulan Ramadhan dengan persiapan spiritual yang lebih baik.
Setelah laporan panitia, sambutan disampaikan oleh Ketua HMPS HES, Yafi Angga Mulyana. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kegiatan kajian keilmuan sebagai ruang refleksi sekaligus pembelajaran bagi mahasiswa. Menurutnya, Ramadhan bukan hanya momentum untuk meningkatkan ibadah secara personal, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki cara berinteraksi dengan sesama, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Memasuki acara inti, Regina Lasca Mutiya menyampaikan materi kajian yang menyoroti fenomena perilaku “toxic” yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di media sosial. Ia mengajak para peserta untuk lebih bijak dalam menggunakan kata-kata serta menjaga hati dari prasangka dan emosi negatif.
Menurutnya, Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk melatih kontrol diri, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ia juga menekankan bahwa menjaga “jari” dalam konteks digital berarti berpikir sebelum menulis atau mengunggah sesuatu di media sosial, sehingga tidak menimbulkan konflik, ujaran kebencian, maupun sikap yang merugikan orang lain.
Suasana diskusi semakin hidup ketika sesi interaksi antara narasumber dan peserta dibuka. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta berdiskusi mengenai tantangan menjaga etika komunikasi di era digital. Narasumber pun memberikan berbagai pandangan dan motivasi agar mahasiswa mampu menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran untuk menghindari perilaku toxic serta menanamkan nilai-nilai islami dalam setiap interaksi. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter yang lebih baik.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Setelah itu, para peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan. Kebersamaan semakin terasa ketika acara diakhiri dengan buka puasa bersama, yang menjadi momen mempererat silaturahmi antar mahasiswa dan peserta yang hadir (hra)



