Purwokerto, 14 Juni 2026 – Aula Syamsyuhadi Irsyad lantai 10 UMP Tower pada hari Ahad ini berdenyut dengan energi kompetitif yang luar biasa. Setelah sukses menggelar Seminar Nasional sehari sebelumnya, rangkaian Islamic Education Project (IEP) yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) memasuki puncak acara yang paling dinanti: gelaran perlombaan tingkat nasional. Mengusung tema “PAI Next Level: Digital, Religius, Progresif,” kompetisi ini berhasil menyedot perhatian ratusan peserta dari berbagai penjuru tanah air.
Divisi Pemberdayaan Mahasiswa (PEMAS) selaku penyelenggara merancang empat cabang perlombaan sekaligus, yakni Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Story Telling Islami, Lomba Artikel, dan Desain Poster. Keempat kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan teknis peserta, tetapi juga dirancang untuk melatih soft skill, memperluas jaringan relasi, menambah pengalaman berharga, serta menjadi panggung bergengsi bagi setiap peserta untuk menunjukkan keahlian terbaiknya di bidang masing-masing.
Salah satu yang membuat gelaran tahun ini istimewa adalah partisipasi peserta yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Siswa SMA/SMK/MA sederajat Nasional dari berbagai daerah turut meramaikan kompetisi. Ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan bahwa animo peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan, membuktikan bahwa IEP HMPS PAI telah menjelma menjadi agenda nasional yang dinanti-nantikan oleh pegiat pendidikan Islam di tanah air.
“Kami sangat bersyukur atas antusiasme yang luar biasa dari seluruh peserta. Ini menunjukkan bahwa semangat untuk belajar, berkompetisi, dan mengembangkan diri di bidang keislaman masih sangat tinggi di kalangan generasi muda,” ujar ketua panitia dalam sambutan pembukaannya.
Mengikuti perkembangan teknologi dan efisiensi waktu, panitia menerapkan sistem hybrid dalam pelaksanaan lomba. Cabang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) digelar secara offline langsung di Aula Syamsyuhadi Irsyad. Suasana haru dan khidmat menyelimuti ruangan saat para peserta tampil satu per satu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan tartil dan hafalan yang sempurna. Para juri yang kompeten menyimak dengan saksama setiap makhraj dan tajwid yang dilafalkan. Kompetisi MHQ offline ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan pengalaman langsung dan atmosfer kompetitif yang terasa lebih intens.
Sementara itu, tiga cabang lomba lainnya—Story Telling Islami, Lomba Artikel, dan Desain Poster—dilaksanakan secara online. Peserta mengirimkan karya terbaik mereka melalui platform digital yang telah disediakan panitia. Karya-karya tersebut kemudian dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi di bidangnya masing-masing. Cerita-cerita inspiratif bernuansa Islami, tulisan-tulisan tajam tentang isu pendidikan dan keislaman kontemporer, serta desain poster kreatif yang menggabungkan unsur digital dan religius membanjiri meja juri.
Rangkaian acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia yang menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Ia juga memaparkan bahwa peserta lomba berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi HMPS PAI.
Selanjutnya, Ketua HMPS PAI menyampaikan pidato yang menggugah semangat. Ia menegaskan bahwa IEP bukan sekadar agenda tahunan atau rutinitas organisasi. “Acara ini adalah wadah, sebuah ikhtiar kita untuk menegaskan kembali peran strategis pendidikan Islam di era modern. Kita ingin membuktikan bahwa siswa dan mahasiswa tidak hanya cakap di dalam ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi penggerak, inovator, dan syiar dakwah yang kreatif di tengah masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta dan hadirin
Puncak sambutan disampaikan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam yang sekaligus membuka acara secara resmi. Beliau menekankan bahwa tema “PAI Next Level: Digital, Religius, Progresif” sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. “Tema ini menggambarkan bahwa seorang muslim di era modern harus mampu menguasai dunia digital dengan tetap menjaga akhlaknya dan memiliki pola pikir yang berkemajuan. Inilah esensi dari pendidikan Islam yang sesungguhnya,” tegas beliau.
Sepanjang hari Ahad, proses penjurian berjalan dengan ketat dan transparan. Untuk cabang MHQ offline, para peserta tampil secara bergiliran di hadapan dewan juri yang mumpuni di bidang tilawah dan tahfiz. Suasana hening dan khusyuk menyelimuti ruang lomba setiap kali seorang peserta melantunkan ayat-ayat suci. Sementara itu, tim juri untuk tiga cabang lomba online bekerja tanpa kenal lelah menilai ratusan karya yang masuk, mulai dari kualitas narasi, kedalaman analisis, hingga estetika visual dan pesan dakwah yang terkandung di dalamnya.
Dengan berakhirnya seluruh rangkaian perlombaan, HMPS PAI berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus diadakan dan ditingkatkan kualitasnya di masa mendatang. Semangat “Digital, Religius, Progresif” telah terbukti mampu mempersatukan generasi muda Muslim dari berbagai penjuru Nusantara dalam sebuah kompetisi sehat yang membangun. IEP 2026 telah menorehkan sejarah baru, membuktikan bahwa pendidikan agama Islam mampu beradaptasi, berinovasi, dan melahirkan generasi emas yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global.


