PURWOKERTO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menggelar kegiatan Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah (GJDJ) pada Jumat (24/7/2026) di Ruang Rapat I.1.2 Gedung Faqih Utsman. Mengusung tema “Internalisasi Nilai Syukur: Menjawab Krisis Rasa Cukup pada Diri Manusia Modern”, kegiatan ini diikuti oleh dosen dan karyawan FAI UMP sebagai bagian dari upaya memperkuat spiritualitas, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan kampus.
Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Dr. Wage, M.Ag. Para peserta bersama-sama membaca Surah Al-Baqarah ayat 76-86 sebagai pembuka rangkaian GJDJ. Suasana khidmat yang tercipta menjadi pengantar bagi seluruh civitas akademika untuk mempersiapkan diri menerima materi keislaman yang sarat akan nilai-nilai reflektif.
Dekan FAI UMP, Assoc. Prof. Dr. Makhful, M.Ag., dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan GJDJ yang secara rutin menjadi bagian dari pembinaan spiritual di lingkungan fakultas. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kualitas pribadi sekaligus memperkuat budaya kerja Islami.
“Saya sangat bersyukur Alhamdulillah dapat melaksanakan kegiatan rutin yaitu GJDJ (Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah) yang menjadi momentum untuk menjaga kualitas SDM di hadapan Allah SWT, meningkatkan kualitas pelayanan dan kebersamaan antar civitas akademika, serta memperkuat etos kerja Islami dan semangat kedermawanan,” ujarnya.
Pada sesi utama, Muhammad Sidiq Pambudi, M.Pd., menyampaikan kajian yang berfokus pada pentingnya membangun rasa syukur di tengah kehidupan modern yang sering kali diwarnai dengan krisis rasa cukup. Ia membuka pemaparannya dengan mengulas kandungan Surah Ibrahim ayat 7 yang berisi janji Allah SWT kepada hamba-Nya. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah akan menambah nikmat bagi siapa saja yang senantiasa bersyukur, sementara azab telah disiapkan bagi mereka yang mengingkari nikmat-Nya.
Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar ajakan untuk mengucapkan syukur secara lisan, melainkan sebuah maklumat Allah yang mengandung prinsip kehidupan. Semakin seseorang mampu mensyukuri nikmat yang telah diberikan, semakin besar peluang bertambahnya keberkahan dalam hidupnya. Sebaliknya, kufur terhadap nikmat akan menjauhkan seseorang dari ketenangan dan keberlimpahan yang dijanjikan Allah SWT.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Sidiq juga mengangkat kisah inspiratif Abdullah bin Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai ulama besar dan ahli tafsir. Kisah tersebut menjadi gambaran bagaimana pola pikir syukur dibangun sejak dini melalui doa Rasulullah SAW dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa konsep syukur dapat dipahami melalui beberapa dimensi. Pertama, syukur intelektual, yakni rasa syukur yang lahir dari doa Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Abbas agar diberikan pemahaman agama dan hikmah dalam menafsirkan Al-Qur’an. Kedua, syukur diwujudkan dengan memanfaatkan seluruh nikmat berupa pancaindra, akal, dan potensi yang telah Allah anugerahkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Ketiga, syukur sikap, yaitu mengimplementasikan rasa syukur melalui adab, akhlak, dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, syukur sosial, yakni menjadikan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki sebagai sarana memberikan manfaat bagi orang lain serta menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Menutup kajiannya, Muhammad Sidiq mengajak seluruh peserta untuk memaknai kebahagiaan dari sudut pandang yang lebih mendalam. Menurutnya, bertambahnya nikmat materi tidak selalu identik dengan meningkatnya kebahagiaan apabila tidak disertai rasa syukur. Sebaliknya, rasa syukur menjadi fondasi utama yang mampu menghadirkan ketenangan hati dalam berbagai kondisi kehidupan.
“Nikmat bertambah sebetulnya tidak mesti otomatis bahagia, tetapi harus ada tambahan yaitu syukur. Nikmat lahiriah bukan berarti menjadi patokan kebahagiaan, melainkan rasa syukur adalah titik sebuah kebahagiaan,” tutupnya.
Melalui pelaksanaan GJDJ, FAI UMP terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi intelektual, tetapi juga penguatan karakter spiritual. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk memupuk semangat istiqamah dalam beribadah, memperkokoh keimanan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara dosen dan tenaga kependidikan, sehingga nilai-nilai Islam dapat terimplementasi secara nyata dalam kehidupan kampus maupun pengabdian kepada masyarakat. (MT)

