This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Rahmat Pambudi, S.Kom

Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Ribuan mahasiwa, dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) antusias nonton bareng (nobar) pemutaran film G30S/PKI yang digelar di Auditorium Ukuwah Islamiyah UMP, Kamis (28/9/2017) malam.

Sebelum film diputar, Rektor UMPDR. H. Syamsuhadi Irsyad, MH  mengungkapkan, kegiatan Nobar G30S PKI yang dilaksanakan di UMP adalah sesuai dengan interuksi dari Panglima TNI agar kejadian kelam peristiwa 65/66 tidak terulang kembali di Indonesia. “Tujuan dari Nobar G30S PKI adalah agar mahasiswa dan mahasiswi UMP mengenal sejarah peristiwa 65/66, serta untuk membekali agar tidak terpengaruh adanya upaya kelompok tertentu yang memutar balikan fakta,” katanya.

Rektor menjelaskan, kemungkinan munculnya PKI gaya baru saat ini, meminta kepada Panglima TNI yang dikenal sangat dekat dengan umat Islam untuk mengambil langkah tegas agar PKI tidak bangkit kembali.

“Film G 30S PKI adalah fakta sejarah yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Dalam perkembangannya saat ini ada beberapa kelompok yang menolak fakta sejarah dalam film tersebut yang menganggap bahwa film tersebut tidak sesuai fakta yang terjadi. Mereka berupaya untuk memutar balikan fakta sejarah,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasrem 071/Wk Letkol Inf Ariful Mutaqin mengapresiasi atas terlaksananya pemutaran film G 30S PKI di UMP. “Film terasebut merupakan fakta sejarah tentang kejadian 65/66, walaupun sekarang ada pihak yang berupaya untuk memutar balikan fakta sejarah,” katanya.

Letkol Inf Ariful Mutaqin mengatakan bahwa DR. H. Syamsuhadi irsyad, MH (Rektor UMP) merupakan salah satu pelaku sejarah yang mengetahui kejadian 65/66 dan mengetahui kekejaman PKI. “ Pesan dari Danrem 071/Wk adalah tujuan pemutaran film G 30S PKI adalah agar peristiwa kelam 65/66 tidak terulang kembali. Agar masyarakat mengerti sejarah bangsa Indonesia dan agar masyarakat Indonesia tidak terpengaruh terhadap upaya-upaya yang berusaha untuk memutar balikan fakta sejarah,” tandasnya.

Dijelaskan, Pemutaran film G 30S PKI merupakan interuksi dari PanglimaTNI yang dilaksanakan oleh seluruh instansi TNI sampai tingkat Koramil.

Hingga film dimulai tampak ribuan mahasiswa dosen dan karyawan sudah memenuhi seluruh ruang di Auditorium Ukuwah Islamiyah. Tidak sedikit dari meeka yang tidak kebagian kursi hingga naik diatas Auditorium.

Acara dilanjutkan dengan pemberian cinderamata dari DR. H. Syamsuhadi irsyad, MH (Rektor UMP) kepada Letkol Inf Ariful Mutaqin (Kasrem 071/Wk) dan dilanjutkan Nobar film  G 30S PKI. (tgr)

Setelah sebelumnya serah terima jabatan di Mapolda Jawa Tengah, Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun, S.I.Kdidampingi Kasat Intelkam Polres Banyumas AKP Sulistyo Dwi Cahyono, S.H.  melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Selasa, (3/10/2017) siang.

Kapolres Banyumas tiba di Universitas Muhammadiyah Purwokerto disambut langsung oleh Rektor UMP,  Dr. H Syamsuhadi Irsyad M.Hbeserta Pimpinan Wakil Rektor untuk bersilaturahmi di ruang Rektorat.

Pada kesempatan pertemuan silaturahmi ini, Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun, S.I.Kmemperkenalkan diri kepada Rektor dan beberapa Pimpinan Universitas yang hadir dalam pertemuan ini.

“Tujuan dari kunjungan saya ini untuk bersilaturahmi dan sekaligus memperkenalkan diri selaku Kapolres Banyumas yang baru,” kata Kapolres.

Lebih lanjut Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun, S.I.K mengatakan, selain menjalin tali silaturahmi dan memperkenalkan diri kepada masyarakat, kunjunga ini bertujuan untuk mengetahui wilayah-wilayah di Banyumas.

Kapolres juga mengajak kepada mahasiswa untuk senantiasa ikut membangun bangsa dan negara. “Semoga UMP, Universitas Muhammadiyah Purwokerto dapat berkontribusi dalam menjaga keamanan . Kedepan menjadi generasi muda yang membangun bangsa dan Negara,” tutup Kapolres.(tgr)

 

Shalat dan Dua Potensi Manusia: Sebuah Nasehat Petang

Istianah, Lc., M.Hum.

Kota Malang. Pukul 16.05 kami memasuki halaman rumah yang juga menjadi bagian dari halaman masjid berwarna hijau. Suasana bising dari lalu lalang kendaraan di jalan yang berada tepat di depan kedua bangunan tersebut menjadi kesan pertama, tetapi ada nuansa tenang dan sejuk yang sudah sangat terasa di hati begitu saya dan 2 rekan lainnya turun dari kendaraan dan berjalan menuju gerbang rendah dari rumah yang kami tuju. Bel pintu rumah saya tekan satu kali. Tanpa menunggu lama terdengar suara pemilik rumah membukakan pintu, menghampiri kami dan langsung menyapa dengan sangat grapyak. Keramahannya menyenangkan, langsung membuat betah. Beliau adalah Prof. Imam Suprayogo.

Sore tersebut merupakan kesempatan ketiga bagi saya bertemu beliau secara langsung, tapi menjadi yang pertama kalinya berkunjung ke kediaman beliau. Selebihnya saya hanya bisa berjumpa dan mendengar kata-katanya melalui tulisan yang beliau unggah setiap hari. Untaian hikmah dan nasehat.

Obrolan dibuka dengan ringan, kami saling bertanya kabar, kesehatan, kesibukan, hingga yang cukup serius mengenai kegalauan atas akhlak, perilaku dan watak pendidik dan peserta didik saat ini.

Menurut beliau, karakter, perilaku, watak, adalah hal yang harus menjadi garapan utama kita terhadap generasi harapan, setelah itu baru bisa terjadi revolusi mental. “Kita memang harus memperbaiki akhlak bangsa. Tapi apakah bisa? Sampai saat ini saya belum putus asa, akan tetapi sepertinya dari dulu pembinaan akhlak tidak bisa dididik ditempuh melalui lembaga pendidikan.” Ujar beliau sembari terus mengajak kami bertiga untuk memperhatikan hal yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan melihat aspek kejujuran pada peserta didik, karena sikap jujur merupakan indikator dari akhlak yang baik. Kita bandingkan tingkat kejujuran anak bangsa dengan melihat dan membandingkan anak didik mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi, yang memiliki akhlak paling jujur adalah anak PAUD. Sedangkan sebaliknya, yang paling nakal di antara mereka yaitu yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ujian pun dijaga agar tidak nyontek. Belum lagi copy paste yang kerap dilakukan oleh mahasiswa.

Pertanyaan kemudian yaitu apakah kejujuran tersebut bisa didapat melalui kursus? Melalui membaca buku? Apakah bisa? Jawabannya tentu saja tidak! Karena akhlak hanya ada di dalam hati. Sedangkan hati merupakan ruh. Apakah ruh itu? Dalam Al-Qur’an disebutkan ruh adalah min amri Rabbi, ia merupakan wilayah Allah, bukan wilayah manusia. Akan tetapi untuk memasuki wilayah tersebut, Allah telah memberikan saluran dan jalurnya, yaitu melalui shalat. Allah mensyariatkan shalat sebagai tempat menempa akhlak.

Beliau kemudian membuka lembaran Al-Qur’an. Beberapa ayat dan terjemahnya dibacakan kepada kami. Kemudian Prof. Imam menyampaikan, pintu neraka amatlah banyak, “untuk memasukinya tidak perlu menjadi Yahudi, tak perlu juga menunggu Israel memasuki negara Indonesia. Hanya dengan menjadi seorang muslim pun kita sebenarnya sudah bisa memasukinya.” Kita sudah memiliki akses pintu-pintu tersebut.

Benar. Subhanallah.Dan dalam keadaan masih terkejut mendengarnya, saya mengamini ucapan beliau. Kejujuran dan ketidakjujuran. Pintu surga dan pintu neraka.Masing-masing dari kita sejak awal memang telah diciptakan berbekal dua potensi untuk mengakses baik pintu surga maupun pintu neraka. “Wa nafsiw wamaa sawwaahaa, fa alhamahaa fujurahaa wa taqwaahaa, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” Demikian yang tercatat dalam firman-Nya, QS. Al-Syams: 91/8. Maka, manakah yang akan ditingkatkan dan manakah yang akan dipendam dan dihilangkan. Kita sendiri yang harus berusaha seraya memohon kepada hidayah-Nya, memohonnya melalui shalat. Wallahu a’lam.

Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, kami bertiga pamit undur diri kemudian berlanjut menunaikan shalat Maghrib di masjid beliau. Seusai dari semua keperluan tersebut, sembari dalam perjalanan kembali ke penginapan, hati tersentak mensyukuri pertemuan sore ini. Berharap akan pertemuan pada kesempatan berikutnya.

 

Wednesday, 04 October 2017 10:48

Setiap Muslim itu Da’i

 Achmad Husain, S.Ag

Dalam berdakwah, seorang da’i menghadapi tantangan beraneka ragam bentuknya,  baik bentuk klasik: bisa pada penolakan, cibiran, cacian, ataupun teror bahkan sampai pada tataran fitnah. Banyak para da’i mampu mengatasi tantangan atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya sehingga tersingkir dari kancah dakwah. Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah (da’i) bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi. Allah swt. telah memberikan rambu-rambu kepada kita tentang hal ini:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka sedang dibiarkan (saja) mengatakan, “ Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji? Sesungguhnya kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang yang berdusta.” (al-Ankabut: 2-3).

Ujian tersebut sesungguhnya diperlukan oleh orang-orang mukmin justru untuk meningkatkan kapasitasnya. Adanya ujian dan kendala-kendala riil ditengah kehidupan ini akan terbukti siapa saja yang yang benar pengakuannya dan siapa pula yang dusta. Beberapa ujian yang sering dijumpai da’i dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidak seimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri. Belajar dari hal tersebut, para aktivis dakwah harus mampu menyesuaikan dan mengelola kendala internal dalam dirinya terlebih dahulu, agar bisa optimal menunaikan amanah dakwah. Problematika internal aktivis dakwah meliputi:

Gejolak Kejiwaan: Para aktivis dakwah adalah manusia biasa yang lengkap seluruh unsur kemanusiaannya. Wajar jika mereka memiliki permasalahan kejiwaan. Mereka bisa merasakan sedih, senang, kecewa, dan bangga. Bahkan, terkadang bingung, cemas, gelisah, marah, namun ada saat tenang dan gembira. Di dalam diri manusia terdapat ada banyak potensi yang mengarahkan kepada kebaikan manusia, namun ada juga yang mengarah pada potensi yang membawanya kepada keburukan, dengan demikian tergantung dari masing-masing manusia dalam mengalokasikan potensi tersebut.Sebagai manusia biasa, setiap aktivitas dakwah memiliki peluang untuk mengalami berbagai gejolak dalam dirinya. Jika tidak dikelola secara tepat, maka gejolak ini bisa berdampak negative dalam kegiatan dakwahnya, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menghancurkan citra aktivitas dan dakwah itu sendiri.

Gejolak Amarah: Kadang gejolak jiwa di sisi yang lain muncul ketika menangani kasus-kasus medan dakwah. Permasalahan dakwah sering memancing munculnya gejolak kemarahan dalam jiwa para aktivis dakwah, yang jika tak terkendali akan memunculkan letupan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Pada kondisi seperti ini, perasaan yang lebih dominan, pertimbangan akal sehat bahkan perhitungan manhaj dakwah menjadi terabaikan. Tentu saja hal ini merupakan peluang bagi munculnya penyimpangan manhajiyyah dalam gerak dakwah, sekaligus membuka celah tak menguntungkan bagi kondisi juru dakwah itu sendiri. Kadang-kadang gejolak kejiwaan yang muncul pada diri juru dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik di medan dakwah maupun pada penataan gerak dakwah itu, membuka peluang kearah terjadinya fitnah di kalangan muslim sendiri. Apabila gejolak ini tidak segera diselesaikan, bisa menimbulkan kerawanan hubungan yang membahayakan gerakan dakwah itu sendiri. Di sini tampak peranan penting seorang juru dakwah dalam menyelesaikan gejolak tersebut. Satu sisi akan memberikan peringatan, bahkan bisa jadi berupa hukuman kepada person yang melanggar. Sementara, di sisi lain mampu menyelesaikan masalah akibat gejolak yang muncul.

Gejolak Syahwat: Banyak potensi dalam setiap jiwa manusia bisa menyeretnya ke jalan kefasikan, misalnya masalah syahwat. Sebenarnya syahwat ini merupakan potensi fitrah yang dikaruniakan Allah swt. kepada manusia, namun ternyata banyak manusia yang terpeleset ke dalam jurang kehinaan dan kemaksiatan karena menuruti atau memperturutkan keinginan syahwatnya. Bukan hanya manusia, bahkan para pengemban aktivis dakwah juga memiliki peluang terjebak dalam gejolak syahwat. Allah swt. syahwat sebagai sebuah kenyataan naluriyah, setiap manusia memilikinya: Dijadikan indah pada pandangan manusiakecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik / surga (Ali-Imran, 14). Gejolak kejiwaan dalam hal syahwat ini muncul dengan sendirinya tanpa mengenal batas usia, meskipun akan tampak lebih kuat terjadi pada usia muda. Oleh karena itu bagi aktivis dakwah atau juru dakwah, gejolak ini harus ditanggapi dengan serius, sebab apabila dibiarkan akan dapat menimbulkan kecendrungan yang bisa menjerumuskan.

Gejolak Heroisme: Kadang dijumpai sebuah semangat yang sangat heroik di medan perjuangan, apabila tatkala berada dalam peperangan menghadapi musuh. Semangat kuat yang muncul dari sikap heroisme para petarung adalah mengalahkan dan menaklukan musuh. Pada titik tertentu bahkan itu menjadi semacam obsesi kepahlawanan. Namun jika gejolak ini tidak diletakkan secara tepat, bisa pula berdampak negatif.

Inilah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali untuk diri ini, agar semangat berdakwah terus tumbuh diikuti dengan kematangan mental dan pemahaman yang mendalam akan ajaran Islam yang kita yakini sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Pendaftaran Online Ujian Sertifikasi Baca Al-Quran bagi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Silahkan download Alur Pendaftaran Online Ujian Sertifikasi Baca Al-Quran Mahasiswa UMP pada link attachment dibawah.

Grand Launching Pesantren Mahasiswa Kader (PRESMAKA) K.H Abu Dardiri dan Temu Wali Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto(UMP) resmidigelar, Sabtu (30/09/2017) di Komplek Rusunawa/ Science Techno Park UMP.

Rektor UMP DR H Syamsuhadi Irsyad M.H dalam sambutannya berharap, Pesantren Mahasiswa Kader K.H Abu Dardiri mampu menjadikan mahasiswa mengkaji dakwah dengan baik serta dapat mengembangkan kesehatan umat. “Umat Islam mampu mengembangkan ekonomi umat dengan keyakinan penuh, karena UMP memiliki fakultas yang menunjang untuk berkembang kearah sana,” katanya.

Rektor juga menabahkan, mahasiswa tidak harus memahami kondisi politik praktis secara mendalam, tapi jangan sampai menjadi buta politik. “Diakhir kepemimpinan Soeharto perlu kita ingat bahwa sebenarnya hal tersebut menguntungkan umat Islam untuk mengembangkan Islam di Indonesia,” jelasnya.

Grand Launching Pesantren Mahasiswa Kader (PRESMAKA) K.H Abu Dardiri dan Temu Wali Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto(UMP) resmidigelar, Sabtu (30/09/2017) di Komplek Rusunawa/ Science Techno Park UMP.

Rektor UMP DR H Syamsuhadi Irsyad M.H dalam sambutannya berharap, Pesantren Mahasiswa Kader K.H Abu Dardiri mampu menjadikan mahasiswa mengkaji dakwah dengan baik serta dapat mengembangkan kesehatan umat. “Umat Islam mampu mengembangkan ekonomi umat dengan keyakinan penuh, karena UMP memiliki fakultas yang menunjang untuk berkembang kearah sana,” katanya.

Rektor juga menabahkan, mahasiswa tidak harus memahami kondisi politik praktis secara mendalam, tapi jangan sampai menjadi buta politik. “Diakhir kepemimpinan Soeharto perlu kita ingat bahwa sebenarnya hal tersebut menguntungkan umat Islam untuk mengembangkan Islam di Indonesia,” jelasnya.

Terpisah Dekan FAI Ibnu Hasan, S. Ag., M.S.I. menjelaskan, hadirnya PRESMAKA digagas untuk mencetak para kader ulama di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pengambilan nama Abu Dardiri diambil karena ingin meneladani nilai-nilai perjuangan beliau.

“Beliau adalah Konsul Muhammadiyah Banyumas yang membawahi seluruh karasidenan ini. Beliau juga merupakan tokoh nasional yang sangat penting untuk ditindak lanjuti, diteladani perjuangannya karena beliau merupakan tokoh perjuangan di Kementrian Agama dan salah satu inisiator  Departemen Agama,” paparnya.

 Ibnu hasan menambahkan, Kader Religius, Cerdas, Dinamis dan Militan akan lahir dari PesantrenAbu Dardiri dengan misi dan visi UMP yangUnggul Modern Islami. “Pesantren Abu Dardiri akan membentuk kader kader yang berwawasan modern, dengan keislaman yang kuat dan memiliki kemampuan yang cukup. Abu Dardiri ingin memiliki kader dengan dengankompetensi terpadu antarakemampuan intelektual dan juga kemampuan religious. Dengan menjadi santri yang intelek, intelek yang santri,” tegas Ibnu Hasan. Keberadaan santri di Pesantren KH Abu Dardiri dilaksanakan dengan proses seleksi dari mulaimasuk UMP.Panitia yangbersinergi dengan LPPI turun ke lapangan melakukan seleksi.  Dengan menekankan materi seleksi pesantren mahasiswa dilaksanakan sore hari setelah kuliah dengan mempelajari aspek yang belum didapat didunia perkuliahan. (han/tgr)

Silahkan download jadwal perkuliahan Fakultas Agama Islam Semester Gasal Tahun Ajaran 2017-2018 pada link attachment dibawah.

Tuesday, 14 June 2016 00:53

UMP Mantapkan Konsolidasi Kemahasiswaan

Untuk menguatkan soliditas bidang kemahasiswaan dan alumni, Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi tuan rumah dalam pertemuan paguyuban bidang kemahasiswaan rayon 3, selasa (7/9) di ruang siding kantor pusat UMP. Acara ini dihadiri oleh pimpinan bidang kemahasiswaan perguruan tinggi se Jawa tengah.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UMP, Anjar Nugroho, Sag, MSI mengatakan pertemuan ini adalah kegiatan rutin tiap triwulan yang bertujuan menjalin silaturahmi pimpinan bidang kemahasiswaan Peguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Agenda dalam pertemuan kali ini adalah koordinasi program pengembangan kemahasiswaan, “Forum konsolidasi dalam upaya mengantisipasi terhadap persoalan-persoalan kemahasiswaan yang terjadi di perguruan tinggi masing-masing,” kata Anjar.

Mengenai sasarannya, Anjar memastikan kedepannya akan terjalin koordinasi yang semakin baik, mulai dari gerak pengembangan bidang kemahasiswaan, kerjasama kemahasiswaan antar perguruan tinggi dan soliditas pimpinan. Anjar memang paling konsisten untuk memajukan kemahasiswaan dan alumni UMP, tidak sedikit berbagai program yang dicanangkannya berhasil terlaksana dengan baik. Salah satunya adalah paguyuban ini, Anjar yang juga sebagai Ketua Paguyuban Rayon 3 menuturkan ada banyak manfaat yang didapatkan UMP melalui paguyuban ini, “Kita menambah jaringan, relasi kerja, membuat dampak kemajuan, memiliki sudut pandang variatif terhadap persoalan yang ada dan ajang tukar pikiran agar langkah kita di perguruan tinggi masing-masing semakin baik,“ katanya. Anjar berharap UMP dapat semakin lebih kompak dalam menyemarakkan kegiatan kemahasiswaan yang sudah rutin dilaksanakan seperti pekan seni dan olahraga mahasiswa. “Beberapa program yang diberikan oleh DIKTI berhasil kita emban dengan baik. Apabila dilaksanakan secara bersama akan lebih baik bahkan mampu menghasilkan jumlah peserta yang lebih dari target. Begitu pula dengan prestasi mahasiswanya,” harapnya

Page 7 of 7