This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Rahmat Pambudi, S.Kom

Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Istianah, Lc., M.Hum.

Kota Malang. Pukul 16.05 kami memasuki halaman rumah yang juga menjadi bagian dari halaman masjid berwarna hijau. Suasana bising dari lalu lalang kendaraan di jalan yang berada tepat di depan kedua bangunan tersebut menjadi kesan pertama, tetapi ada nuansa tenang dan sejuk yang sudah sangat terasa di hati begitu saya dan 2 rekan lainnya turun dari kendaraan dan berjalan menuju gerbang rendah dari rumah yang kami tuju. Bel pintu rumah saya tekan satu kali. Tanpa menunggu lama terdengar suara pemilik rumah membukakan pintu, menghampiri kami dan langsung menyapa dengan sangat grapyak. Keramahannya menyenangkan, langsung membuat betah. Beliau adalah Prof. Imam Suprayogo.

Sore tersebut merupakan kesempatan ketiga bagi saya bertemu beliau secara langsung, tapi menjadi yang pertama kalinya berkunjung ke kediaman beliau. Selebihnya saya hanya bisa berjumpa dan mendengar kata-katanya melalui tulisan yang beliau unggah setiap hari. Untaian hikmah dan nasehat.

Obrolan dibuka dengan ringan, kami saling bertanya kabar, kesehatan, kesibukan, hingga yang cukup serius mengenai kegalauan atas akhlak, perilaku dan watak pendidik dan peserta didik saat ini.

Menurut beliau, karakter, perilaku, watak, adalah hal yang harus menjadi garapan utama kita terhadap generasi harapan, setelah itu baru bisa terjadi revolusi mental. “Kita memang harus memperbaiki akhlak bangsa. Tapi apakah bisa? Sampai saat ini saya belum putus asa, akan tetapi sepertinya dari dulu pembinaan akhlak tidak bisa dididik ditempuh melalui lembaga pendidikan.” Ujar beliau sembari terus mengajak kami bertiga untuk memperhatikan hal yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan melihat aspek kejujuran pada peserta didik, karena sikap jujur merupakan indikator dari akhlak yang baik. Kita bandingkan tingkat kejujuran anak bangsa dengan melihat dan membandingkan anak didik mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi, yang memiliki akhlak paling jujur adalah anak PAUD. Sedangkan sebaliknya, yang paling nakal di antara mereka yaitu yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ujian pun dijaga agar tidak nyontek. Belum lagi copy paste yang kerap dilakukan oleh mahasiswa.

Pertanyaan kemudian yaitu apakah kejujuran tersebut bisa didapat melalui kursus? Melalui membaca buku? Apakah bisa? Jawabannya tentu saja tidak! Karena akhlak hanya ada di dalam hati. Sedangkan hati merupakan ruh. Apakah ruh itu? Dalam Al-Qur’an disebutkan ruh adalah min amri Rabbi, ia merupakan wilayah Allah, bukan wilayah manusia. Akan tetapi untuk memasuki wilayah tersebut, Allah telah memberikan saluran dan jalurnya, yaitu melalui shalat. Allah mensyariatkan shalat sebagai tempat menempa akhlak.

Beliau kemudian membuka lembaran Al-Qur’an. Beberapa ayat dan terjemahnya dibacakan kepada kami. Kemudian Prof. Imam menyampaikan, pintu neraka amatlah banyak, “untuk memasukinya tidak perlu menjadi Yahudi, tak perlu juga menunggu Israel memasuki negara Indonesia. Hanya dengan menjadi seorang muslim pun kita sebenarnya sudah bisa memasukinya.” Kita sudah memiliki akses pintu-pintu tersebut.

Benar. Subhanallah. Dan dalam keadaan masih terkejut mendengarnya, saya mengamini ucapan beliau. Kejujuran dan ketidakjujuran. Pintu surga dan pintu neraka. Masing-masing dari kita sejak awal memang telah diciptakan berbekal dua potensi untuk mengakses baik pintu surga maupun pintu neraka. “Wa nafsiw wamaa sawwaahaa, fa alhamahaa fujurahaa wa taqwaahaa, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” Demikian yang tercatat dalam firman-Nya, QS. Al-Syams: 91/8. Maka, manakah yang akan ditingkatkan dan manakah yang akan dipendam dan dihilangkan. Kita sendiri yang harus berusaha seraya memohon kepada hidayah-Nya, memohonnya melalui shalat. Wallahu a’lam.

Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, kami bertiga pamit undur diri kemudian berlanjut menunaikan shalat Maghrib di masjid beliau. Seusai dari semua keperluan tersebut, sembari dalam perjalanan kembali ke penginapan, hati tersentak mensyukuri pertemuan sore ini. Berharap akan pertemuan pada kesempatan berikutnya.

Wednesday, 01 November 2017 02:26

Kemajuan Teknologi Komunikasi dan Kebocoran Etika

Oleh: Istianah, Lc., M.Hum.

Selalu ada kebaharuan kisah pada setiap hari. Baik bencana alam, bencana non-alam, bencana sosial, dan lain sebagainya dari yang bertaraf internasional hingga bencana yang bertaraf lokal. Berita-berita dan kisah tersebut semakin sesak memenuhi ruang ingatan manusia atas apa saja yang terjadi dalam kehidupan. Dalam beberapa hari akan menjadi peristiwa yang memenuhi ruang diskusi dalam grup-grup besar dan kecil, dalam beberapa hari, kemudian akan berlalu menjadi kenangan karena tergeser oleh kisah baru yang berdesakan masuk. Terkadang kita terus mengingat peristiwa tersebut tanpa ada yang mengingatkan, tapi lebih seringnya mereka baru akan mengingat dan membahasnya kembali ketika mendekati musim-musim tahunan. Seakan peristiwa tersebut terlahir kembali mengulang tahun kejadiannya. Sedangkan pada kali ini kita batasi perenungan pada bencana sosial saja.

Informasi dan berita kini tak memerlukan hitungan hari bahkan jam untuk mencapai tangan pembaca. Ia tak lagi terkungkung di balik dinding dan di bawah meja manusia-manusia pencekalnya. Tak ada seorang pun yang bisa menahannya untuk terbang mengudara menyapa siapapun yang bersedia menikmati. Siapapun, memang ingin menikmatinya. Ia menjadi modal bagi segelintir atau sebagian banyak manusia untuk berdiskusi, berbicara, dan sekedar mengobrol yang sebenarnya tidak membuahkan apa-apa. Tapi pada intinya ia dibutuhkan sebagai adonan untuk dilahap, atau bahkan untuk “digoreng” kembali agar senantiasa hangat dan menarik dibicarakan.

Kita mengerucut pada skala ruang yang lebih kecil. Ketika kita mendengar seorang di sekitar kita, melakukan sebuah kesalahan pada satu hal yang mengiris rasa kemanusiaan. Kita akan membicarakannya, entah dengan alasan antisipasi agar suatu saat hal tersebut tak terulang lagi, atau alasan mencari solusi atas apa yang sudah terjadi, atau pun sebenarnya tak ada yang bermaksud pada kedua alasan itu. Kita hanya ingin berbicara dan memperdengarkannya kepada orang lain.

Tak sedikit manusia yang siap membagikan informasi kepada siapa saja, walaupun tanpa ditanya, karena dirinya sendiri menjadi bangga jika dikatakan sebagai manusia pertama yang menerima informasi tersebut dan menyebarkannya. Ia telah menjadi pahlawan informasi bagi rekan-rekannya. Tapi pernahkah bertanya kepada hati nurani, apakah dirinya sendiri pun menjadi pahlawan yang dapat memperbaiki keadaan? Ataukah tak lain justru menjadi penebar bencana. Bencana berupa aib yang seharusnya cukup diketahui oleh tangan-tangan pencari solusinya. Biarkanlah mereka yang bekerja, biarkan mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat benteng antisipasi sekaligus solusi mujarabnya. Bukan kita, yang hanya bisa meng-copy, paste, dan share aib-aib tersebut melalui media sosial dan sebagainya. Karena hanya untuk berdoa dan mendoakan agar keadaan menjadi baik pun belum tentu kita melakukannya, mengingatnya. Padahal hal itu menjadi ciri selemah-lemahnya iman –seorang muslim- bilamana terjadi kemaksiatan di tengah-tengah masyarakatnya.

Lagi-lagi, teknologi –khususnya- komunikasi memang telah melejit melampaui jarak antara Bumi dan Mars. Tapi manusia, yang telah menginovasi teknologi tersebut terus menerus, tak sanggup mengiringi lajunya. Moral, etika, akhlak dan apapun namanya dalam konsep agama dan manusia secara universal yang sejatinya telah tersimpan sebagai potensi pada diri manusia, lenyap hancur menghilang tergilas oleh kemajuan akalnya sendiri. Kantung-kantung kebaikan itu mengalami kebocoran.

Mengerikan, tapi tetap saja belum ditemukan solusinya. Pesakitan manusia yang satu ini belum menemukan obat penyembuhnya secara total, hanya rambu-rambu yang dapat meminimalisir getirnya nyeri yang harus ditanggung. Rambu-rambu berupa etika, moral, akhlak, dan ajaran-ajaran agama yang harus tetap digaungkan terus-menerus agar merasuki hati siapapun yang masih memiliki hati. Maka siapapun harus bersedia menerima teguran, peringatan, “hukuman” di dunia jika melanggarnya, bahkan ganjaran akhirat atas apa yang ia share walau hanya menggunakan jari-jari lentiknya.

Stop untuk menyebarkan aib saudara kita! Jika terpaksa telah kita terima, cukupkan informasi tersebut sampai di tangan kita dan jadikan itu sebagai pelajaran dalam membina anak-anak kita, membentengi generasi ke depan dari kerusakan dan bencana-bencana lainnya. Janganlah menjadi pemakan daging saudara sendiri yang telah mati, sedangkan Pencipta kita yang Maha Pengasih telah mengingatkan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. (QS. al-Hujurat/49: 12).

Janganlah meng-copy, paste dan share kepada khalayak ramai, menjalin komunikasi yang tak perlu, jika hal itu sesuatu yang dapat menyakiti pihak lain, membuat sedih, membuat tertekan, seakan tak ada lagi tempat dan hati baik di muka bumi ini yang bersedia menerima kehadiran pihak yang bersalah dan bersedia membimbingnya dari kegelapan akal pikir dan hati. Jika ada manusia yang melakukan kesalahan, biarkan Allah Yang Menghukumnya, Allah lah Maha Penerima taubat. Sedangkan kita sebagai hamba-Nya hanya berusaha untuk berbuat baik, beramal shaleh, menutup aib sendiri dan orang lain, serta menjaga satu sama lain dengan nasehat menasehati.

Wednesday, 25 October 2017 02:25

Kesuksesan Menurut Al-Quran

Oleh : Yusmaniar, M.Pd.I (Instruktur LPPIUMP)

Semua orang tentu mendambakan kesuksesan. Baik kesuksesan di dunia maupun kesuksesan di kahirat. Agar menjadi manusia yang sukses dunia dan akhirat tentu tidak terlepas dari pemehaman kita tentang kehidupan. Bagaimana hidup yang kita lakukan agar kita mendapat kesuksesan dunia dan akhirat? Tentu kita harus memikirkan tujuan hidup kita terlabih dahulu. Jika hidup kita hanya untuk sekedar makan maka kita hanya akan giat bekerja tanpa beribadah. Tapi jika orientasi hidup kita lebih kepada akhirat, maka kita akan berpikir lebih jauh tentang apa saja yang akan kita lakukan di dunia, yang tentunya harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal kita hidup di akhirat nanti.

Allah menjelaskan dalam Q.S Al-'Ashr ayat 1- 3 bahwasannay manusia pada dasarnya itu dalam keadaan rugi. Bagaimana caranya agar kita tidak termasuk dalam orang yang merugi?

Firman Allah :  “Demi Waktu, Sesungguhnya Manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S Al ‘Ashr 1-3)

Cara pertama agar kita tidak menajdi orang yang rugi adalah Beriman. Iman merupakan meyakini adanya Allah dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mewujudkan dalam bentuk amal perbuatan. Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

 “Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)

Cara yang kedua adalah dengan beramal sholeh. Amal soleh merupakan perbuatan baik yang dilakukan, baik untuk diri sendiri, baik untuk orang lain dan baik untuk yang ada di sekitarnya. Setiap muslim hendaknya selalu melakukan amal shaleh, dan balasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh adalah surga. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”. (QS AL-Baqarah : 82)

Cara terakhir adalah dengan saling manasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Sesama muslim hendaknya kita saling menasehati. Menasehati untuk senantiasa berbuat baik dan menasehati dalam kesabaran. Terkadang kita lebih mudah menasehati tetapi kurang suka dalam menerima nasehat. Sebenarnya  dinasehati merupakan hal yang menguntungkan. Orang yang dinasehati tidak cukup sekadar mendengar dan menerima nasehat dengan senang dan ikhlas hati, tapi lebih dari itu seharusnya dia merasa beruntung, bersyukur kepada Allah swt. lalu berterima kasih kepada orang yang menasehatinya meskipun terkadang cara memberikan nasehat kurang berkenanan di hati. Mengapa demikian? Karena masih ada orang lain yang peduli pada dirinya, pada keselamatan dan kebahagiaan dirinya di dunia ini dan di kehidupan di akhirat kelak. Orang yang menasehatinya berarti telah menyelamatkan diri, kehidupan dan agamanya, serta membuat dirinya bahagia bukan hanya di kehidupan yang fana ini tapi juga di kehidupan yang kekal kelak. Wallahu A’lam.

Saturday, 14 October 2017 02:24

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

 Dewi Rusliyani, M.Pd.I

LPPI UMP

Di antara hadist  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan  ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, yaitu; “barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang (jauh) lebih baik.”

Betapa sulit manusia untuk meninggalkan sesuatu karena Allah. Terlebih ketika sudah menjadi kebiasaan yang dirinya menilai itu adalah hal yang benar. Tidak sedikit pula dari manusia yang menyukai sesuatu, yang belum tentu hal tersebut baik baginya, seperti yang ada dalam firman-Nya pada surat Al-Baqarah; 114 yang artinya; “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Maka salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan diri untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya bahkan menjadikannya tergolong orang-orang yang merugi. Karena hal ini adalah salah satu tanda dari kebaikan keislaman seseorang, seperti yang ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318, yaitu; “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”. Dan dalam usaha meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya hendaklah diniatkan murni karena Allah dan bukan yang lain, karena perubahan seseorang menjadi baikpun tidak sedikit yang diniatkan karena seseorang yang dicintainya atau karena teman dekatnya, atau karena seseorang yang dianggap berperan penting dalam hidupnya sehingga dengan mudah dia akan mengulangi perbuatan buruknya ketika tidak berada diantara orang-orang tersebut. Itu semua tidaklah benar. Tapi berubahlah karena Allah Ta’ala.

Hikmah yang terpenting yang bisa kita ambil adalah hendaklah semua manusia yakin bahwa segala sesuatu yang kita tinggalkan  murni karena Allah Ta’ala tidaklah akan membuatnya rugi dan menyesal, tapi sebaliknya seseorang tersebut akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari apa yang dikehendaki oleh manusia.

Ketika seseorang meninggalkan riba karena Allah, maka Allah akan membukakan keberkahan pada rezekinya.

Ketika seseorang meninggalkan dorongan syahwatnya karena Allah, maka Allah Ta’ala akan ganti dengan rasa cinta kepada-Nya, manisnya beribadah hanya kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, yang itu semua mengalahkan berbagai kelezatan duniawi, (QS. Al-Anbiyaa’: 91)

Ketika seseorang meninggalkan sifat pelit karena Allah, maka ia akan menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. At Taghabun: 16)

Ketika seseorang meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan yang lain karena Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. (HR. Muslim).

Ketika seseorang meninggalkan sifat sombong dan memilih tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan membuat ia meninggikan derajatnya di dunia. (HR. Muslim.

Dari beberapa contoh diatas, merupakan bukti bahwa janji Allah untuk menggantikan dengan yang lebih baik adalah BENAR.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang mampu meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala.

Wallaahu a’lam

 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)  sebagai lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah kembangkan amal usaha untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat.  Bertempat di Ruang Sidang lantai 2 UMP pada 25 November 2017 diselenggarakan Pembahasan Rencana Pendirian Poliklinik Pratama dan UeMPe Mart di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)  dan Pimpinan Daerah Aisyiah (PDA) Kabupaten Banyumas. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua 1 Badan Pimpinan Harian (BPH) UMP Drs Ahmad Kifni,  Rektor UMP Dr H Syamsuhadi Irsyad M. H., Ketua PDM Banyumas,  Ketua PDA Banyumas,  dan seluruh Ketua PCM dan PCA Banyumas.

Dalam kesempatan ini,  Rektor UMP Dr H Syamsuhadi Irsyad menyampaikan bahwa ump memiliki peran dalam kegiatan perekonomian masyarakat. Menurutnya,  melalui PT UMP insan Mulia dapat mendorong persyarikatan Muhammadiyah untuk mengambil peran secara utuh dengan mendirikan UeMPe Mart dan Poliklinik Pratama. “Kita dapat memaksimalkan keberadaan PCM atau PCA dalam pendirian UeMPe Mart dan Poklinik UMP,” pungkasnya. 

UMP melalui PT UMP Insan Mulia akan mendukung sepenuhnya bagi PCM atau PCA yang bercita-cita mendirikan Klinik Pratama dan UeMPe Mart. Dari hal tersebut wakil Rektor 2 Bidang Administrasi Umum dan Direktur PT Insan Mulia Drs Joko Purwanto M. Si., mengatakan bahwa 11 amal usaha PT UMP Insan Mulia mengajak Persyarikatan Muhammadiyah di Kabupaten Banyumas optimis untuk mengawali berdirinya Poliklinik Pratama dan UeMPe Mart. “Mulai dari yang sederhana dan langkah kecil melalui pendirian dan mengembangkan Poliklinik Pratama dan UeMPe Mart akan berefek kepada roda perekonomian di masyarakat, khususnya di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah,” tutupnya.

Pendirian Poliklinik Pratama dan UeMPe Mart, menurut Wakil Rektor 4 Bidang Pengembangan Kerjasama dan AIK Dr Ns Jebul Suroso S.Kep., M.Kep., mengatakan bahwa dalam pendirian Poliklinik Pratama, UMP telah memiliki banyak potensi SDM yang kompeten mengelola klinik tersebut. “Kita bisa memberdayakan alumni UMP di Fikes, Fakultas Kedokteran dan Farmasi untuk bersinergi dengan persyarikatan Muhammadiyah dalam pengelolaan Poliklinik Pratama,” kata Dr Ns Jebul Suroso S.Kep. M.Kep.,. (Sls).

 Sejumlah karyawan dan dosen anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) se- Universitas Muhamadiyah Purwokerto (UMP)mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) KOKAM tahun 2017. Acara ini digelar di Kompleks Universitas Muhammadiyah Purwokerto sejak Jum’at-Ahad (17-19/11/2017).

Turut Hadir dalam pembukaan Rektor UMP Dr. Syamsuhadi Irsyad MH., Komandan KOKAM Kabupaten Banyumas Azhar Syukri Romadlon, Komandan dan KOKAM Surya Cendekia UMP Iwan Fachrudin S.E. M.Si. A.k. C.A., dan dijadwalkan KOKAM Pusat Dahnil Anzar S.

Kegiatan yang digelar selama tiga hari oleh KOKAM Surya Cendikia Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengambil tema Bermuhammadiyah melalui KOKAM :Tauhid Ilmu dan Amal adalah Senjata. Peserta Diksar KOKAM mendapatkan materi serta pelatihan untuk sadar Bela Negara serta merawat Pancasila dan NKRI.

Diksar KOKAM ini di isi oleh Pemateri yang kompeten yaitu KORAMIL, PDPM Banyumas, MDMC Banyumas, Polsek Kembaran dan KOKAM daerah Banyumas.

Kemudian menjalin sinergi atau kerja sama dengan Pemerintah, TNI, POLRI dan para Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah yang ada di Kabupaten Purbalingga dan mencetak kader Muhammadiyah yang militan.

Dalam sambutannya Rektor UMP Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, M.H. mengatakan bahwa keberadaan KOKAM Surya Cendekia UMP, menurutnya sebagai kontribusi UMP dalam menjaga ketahanan bangsa Indonesia. Mengingat sejarah terbentuknya KOKAM Indonesia  berawal dari semnagat warga Muhammadiyah pasca terbenuhnya 7 Jenderal Panglima TNI pada tragedi G/30/SPKI. “Saya mendorong Karyawan dan Dosen UMP bergabung di KOKAM Surya Cendekia UMP sebagai semangat warga Muhammadiyah berkontribusi dalam mempertahankan ketahananan Nasional,” pungkasnya.

Harapannya setelah mengikuti Diksar, seluruh pasukan KOKAM Surya Cendekia UMP dapat mengaplikasikan Trilogi KOKAM yang senantiasa diserukan oleh Komandan KOKAM Indonesia. "Menjaga ukhuwah islamiya, merawat NKRI serta Menggembirakan kehidupan kemanusiaan serta," kata Rektor UMP Dr H. Syamsuhadi Irsyad MH.

Komandan KOKAM Surya Cendekia UMP, Iwan Fachrudin S.E. M.Si. A.k. C.A., menyampaikan bahwa KOKAM Surya Cendekia UMP  sebagai SALAH SATU Ortom Muhammadiyah siap membantu pengawalan dan keselamatan masyarakat Indonesia. “Dengan dibentukanya Ortom ini membutuhkan sebuah pelatihan yang cukup untuk membekali kemampuan anggota. Acara ini dimaksudkan untuk memberikan dasar-dasar pengamanan seperti layaknya tentara yang mengamankan Indonesia,” katanya.

Komandan KOKAM Kabupaten Banyumas Azhar Syukri Romadlon menambahkan, sebagai generasi penerus bangsa, kader Muhammadiyah harus terus mengasah kemampuan dan mengembangkan diri melalui berbagai cara termasuk mengikuti Diksar KOKAM.

Harapannya, tercipta kader manusia yang berkualitas, dan siap menghadapi globalisasi. “Yang pada akhirnya mampu membangun dirinya serta mampu meningkatkan kesejahteraan dan martabat masyarakat pada umumnya,” tutup Azhar Syukri Romadlon yang akrab disapa Aank.(sls/tgr)

 Sejumlah 100 karyawan dan dosen Universitas Muhamadiyah Purwokerto membentuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diksar) Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) UMP. Peserta akan mengikuti Diksar KOKAM UMP pada tanggal 17-19 November 2017. Turut Hadir dalam pembukaan Rektor UMP Dr. Syamsuhadi Irsyad MH., Komandan KOKAM Kabupaten Banyumas Endi Romadhon, Komandan dan KOKAM Surya Cendekia UMP Iwan Fachrudin S.E. M.Si. A.k. C.A., dan dijadwalkan Komandan KOKAM Indonesia Dahnil Anzar S.

 Rektor UMP Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, M.H. mengatakan bahwa keberadaan KOKAM Surya Cendekia UMP sebagai kontribusi UMP dalam menjaga ketahanan bangsa Indonesia. Mengingat sejarah terbentuknya KOKAM Indonesia  berawal dari semnagat warga Muhammadiyah pasca terbenuhnya 7 Jenderah Panglima TNI pada tragedi G/30/SPKI. “Saya mendorong Karyawan dan Dosen UMP bergabung di KOKAM Surya Cendekia UMP sebagai semangat warga Muhammadiyah berkontribusi dalam mempertahankan ketahananan Nasional,” pungkasnya.

Harapannya setelah mengikuti Diksar, seluruh pasukan KOKAM Surya Cendekia UMP dapat mengaplikasikan Trilogi KOKAM yang selalu diserukan oleh Komandan KOKAM Indonesia. "Menjaga ukhuwah islamiya, merawat NKRI serta Menggembirakan kehidupan kemanusiaan serta," Rektor UMP Dr H. Syamsuhadi Irsyad MH.

Sejalan dengan Komandan KOKAM Surya Cendekia UMP, Iwan Fachrudin S.E. M.Si. A.k. C.A., menyampaikan bahwa KOKAM Surya Cendekia UMP  sebagai SALAH SATU Ortom Muhammadiyah  yang akan membantu pengawalan dan keselamatan masyarakat Indonesia. Maka dengan dibentukanya Ortom ini membutuhkan sebuah pelatihan yang cukup untuk membekali kemampuan anggota. “Acara ini dimaksudkan untuk memberikan dasar-dasar pengamanan seperti layaknya tentara yang mengamankan Indonesia”, tutup nya. (Uly/Sls)

 Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Purwokerto (PSDKP UMP) siap mengawal perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak seluruh Indonesia.

Direktur PSDKP UMP, Dr. Anjar Nugroho M.S.I., M.H.I. menjadi narasumber dalam  diskusi publik PSDKP UMP membincang demokrasi bertajuk Masa Depan Demokrasi Indonesia Di Era Generasi Milenial di Ruang Sidang Rektorat lt. 2 UMP, Kamis, (16/11/2017) sore.

“Kami dari Pusat Studi Demokrasi membentuk kesadaran dulu, setelah mereka (mahasiswa) sadar, baru mereka memiliki langkah cerdas politik yang akan mereka lakukan,” kata Dr. Anjar

Menurutnya, dari sisi jumlah, pemilih pemula tergolong sangat siginifikan, akan tetapi jika dilihat dari pilihan-pilihan politik mereka masih belum bisa diharapkan. “Dari hasil survei, para pemilih pemula ini belum memiliki pemilih yang mandiri. Justru orang tua disekeliling mereka yang mengarahkan para pemilih pemula ini untuk memilih pilihan politik tertentu,” ujarnya.

Untuk mengatasi itu, lanjut Anjar harus terus dilakukan sosialisasi untuk edukasi terhadap pemilih pemula. “Seperti yang dilakukan oleh JPPR ini merupakan sebuah ikhtiar bagaimana pemilih pemula itu memiliki kesadaran politik. Itu yang penting,” pungkasnya.

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa bisa lebih mensosialisasikan kepada masyarakat. “Karena kita tahu bahwa setatus sebagai mahasiswa, secara strata sosial cukup terpandang di hadapan masyarakat. Sehingga ketika mereka menyuarakan sesuatu, pasti akan diikuti oleh masyarakat,” katanya.

“Terus menerus kita bina mahasiswa, kita didik mahasiswa sehingga mereka juga memiliki kesadaran politik, memiliki kecerdasan politik, dan mau menyampaikan ide-idenya itu di masyarakat,” pungkasnya. (tgr)

Pengembangan kualitas akademik terus dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Salah satu upaya yang dilakukan UMP dengan menghadirkan dosen dari Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia Dr. Nurul Fadly bin Habidin dan Prof. Dr. Syed Ismail bin Syed Mohamad. Kegiatan yang bertajuk kuliah umum dan workshop kepenulisan di selenggarakan pada 14-15 November 2017 di Ruang Sidang Lamtai 2 dan Aula AK Anshori Lantai 3 Gedung Pusat UMP.

Kegiatan yang bertajuk “Graduation On Time” diperuntukan untuk dosen yang sedang menjalani studi lanjut S3 (program Doktor). Disampaikan oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Dr Anjar Nugroho M.HI., M.SI., menyampaikan bahwa penting bagi setiap dosen yang sedang melakukan studi lanjut program magister untuk dapat menyelesaikan studi secara tepat waktu.

 Dr Anjar Nugroho M.HI., M.SI., juga menambahkan ketika dosen telah menyelesaikan studi lanjut secara tepat waktu maka kontribusi dosen untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan linear disiplin ilmunya. “Kesempatan dosen UMP untuk dapat mengembangkan potensi akademiknya sangat terbuka dengan tepat waktu menyelesaikan studi,” pungkasnya.

Lulus tepat waktu Graduation On Time dalam menjalani studi lanjut S3 bukanlah hal yang sulit. Disampaikan oleh Dr Nurul Fadly bin Habidin bahwadiperlukan komitmen setiap individu yang sedang melanjutkan program studi S3. Kendala yang biasa terjadi seringnya terjadi pergantian topik ditengah masa studinya.

“Kesadaran merupakan faktor penting dari keberhasilan menyelesaikan studi S3. Sadar bahwa suatu studi s3 berbeda dengan yang dilaksanakan di S1 dan S2.  Jurnal tentang aktifitas riset dan menulis ide-ide yang pernah dikeluarkan sangat membantu, kita dapat menulis dan membagikan isu terkini yang mana dampaknya akan bermanfaat,” jelasnya. (han/sls)

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Kahfi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) gelar Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) Purwokerto XVII tahun 2015 di Aula Fakultas Teknik UMP, Sabtu (4/11).

FSLDKD merupakan salah satu bentuk koordinasi dakwah yang berfungsi sebagai sarana bagi terciptanya gerak dakwah yang teratur, terpadu, dan kompak menuju ummatan wahidah.

“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil FSLDKD sebelumnya di Tegal yang memberikan amanah kepada LDK Al-Kahfi UMP untuk menyelenggarakan FSLDKD ke-18,” ujar Ketua Panitia Kegiatan Fajar Muhammad Fauzi.

 “FSLDKD Purwokerto memayungi banyak LDK yang tersebar di perguruan tinggi  di Barlingmascakeb, Brebes, Tegal, Pemalang, Wonosobo, sehingga perlu dibangun komunikasi, koordinasi antar LDK di wilayah FSLDKD Purwokerto demi tercipta gerak dakwah yang baik,” lanjut Fajar mahasiswa Prodi Teknik Elektro itu.

Dengan mengambil tema kegiatan “Semangat Pemuda Menuju Generasi Mujahid”, panitia telah menjadwalkan berbagai kegiatan selama gelaran FSLDKD Purwokerto XVIII

“Dalam gelaran FLSKD, ada beberapa agenda yang akan dilakukan.  Setelah kegiatan ramah tamah, Talkshow Inspiratif, dan selanjutnya Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus, Stadium General, Musyawarah Daerah, dan Rapat pimpinan Daerah FSLDKD Purwokerto,” ungkap Fajar Muhammad Fauzi selaku ketua panitia kegiatan.

Sementara itu, Abid Yanuar Badharudin, S.Kom selaku pembina LDK Al-Kahfi berharap melalui kegiatan FSLDKD XVIII aktivis dakwah bisa saling bersinergis dengan baik, menjaga proses pengkaderannya.

 “Tahun 2045, momentum 100 tahun Indonesia menjadi masa di mana usia teman-teman memasuki 40 tahun. Maka bangunlah mulai dari sekarang untuk kejayaan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Teknik itu juga berpesan agar berdakwah dengan cara yang lembut tetapi tidak mengurangi makna, isi dari dakwahnya. “Sebarkanlah kebaikan dengan kelembutan, tetapi makna atau isinya tetap ada,” pesannya.

Page 3 of 7