This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Wednesday, 23 August 2017 23:50

Shalat dan Dua Potensi Manusia: Sebuah Nasehat Petang

Written by
Rate this item
(0 votes)

Shalat dan Dua Potensi Manusia: Sebuah Nasehat Petang

Istianah, Lc., M.Hum.

Kota Malang. Pukul 16.05 kami memasuki halaman rumah yang juga menjadi bagian dari halaman masjid berwarna hijau. Suasana bising dari lalu lalang kendaraan di jalan yang berada tepat di depan kedua bangunan tersebut menjadi kesan pertama, tetapi ada nuansa tenang dan sejuk yang sudah sangat terasa di hati begitu saya dan 2 rekan lainnya turun dari kendaraan dan berjalan menuju gerbang rendah dari rumah yang kami tuju. Bel pintu rumah saya tekan satu kali. Tanpa menunggu lama terdengar suara pemilik rumah membukakan pintu, menghampiri kami dan langsung menyapa dengan sangat grapyak. Keramahannya menyenangkan, langsung membuat betah. Beliau adalah Prof. Imam Suprayogo.

Sore tersebut merupakan kesempatan ketiga bagi saya bertemu beliau secara langsung, tapi menjadi yang pertama kalinya berkunjung ke kediaman beliau. Selebihnya saya hanya bisa berjumpa dan mendengar kata-katanya melalui tulisan yang beliau unggah setiap hari. Untaian hikmah dan nasehat.

Obrolan dibuka dengan ringan, kami saling bertanya kabar, kesehatan, kesibukan, hingga yang cukup serius mengenai kegalauan atas akhlak, perilaku dan watak pendidik dan peserta didik saat ini.

Menurut beliau, karakter, perilaku, watak, adalah hal yang harus menjadi garapan utama kita terhadap generasi harapan, setelah itu baru bisa terjadi revolusi mental. “Kita memang harus memperbaiki akhlak bangsa. Tapi apakah bisa? Sampai saat ini saya belum putus asa, akan tetapi sepertinya dari dulu pembinaan akhlak tidak bisa dididik ditempuh melalui lembaga pendidikan.” Ujar beliau sembari terus mengajak kami bertiga untuk memperhatikan hal yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan melihat aspek kejujuran pada peserta didik, karena sikap jujur merupakan indikator dari akhlak yang baik. Kita bandingkan tingkat kejujuran anak bangsa dengan melihat dan membandingkan anak didik mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi, yang memiliki akhlak paling jujur adalah anak PAUD. Sedangkan sebaliknya, yang paling nakal di antara mereka yaitu yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ujian pun dijaga agar tidak nyontek. Belum lagi copy paste yang kerap dilakukan oleh mahasiswa.

Pertanyaan kemudian yaitu apakah kejujuran tersebut bisa didapat melalui kursus? Melalui membaca buku? Apakah bisa? Jawabannya tentu saja tidak! Karena akhlak hanya ada di dalam hati. Sedangkan hati merupakan ruh. Apakah ruh itu? Dalam Al-Qur’an disebutkan ruh adalah min amri Rabbi, ia merupakan wilayah Allah, bukan wilayah manusia. Akan tetapi untuk memasuki wilayah tersebut, Allah telah memberikan saluran dan jalurnya, yaitu melalui shalat. Allah mensyariatkan shalat sebagai tempat menempa akhlak.

Beliau kemudian membuka lembaran Al-Qur’an. Beberapa ayat dan terjemahnya dibacakan kepada kami. Kemudian Prof. Imam menyampaikan, pintu neraka amatlah banyak, “untuk memasukinya tidak perlu menjadi Yahudi, tak perlu juga menunggu Israel memasuki negara Indonesia. Hanya dengan menjadi seorang muslim pun kita sebenarnya sudah bisa memasukinya.” Kita sudah memiliki akses pintu-pintu tersebut.

Benar. Subhanallah.Dan dalam keadaan masih terkejut mendengarnya, saya mengamini ucapan beliau. Kejujuran dan ketidakjujuran. Pintu surga dan pintu neraka.Masing-masing dari kita sejak awal memang telah diciptakan berbekal dua potensi untuk mengakses baik pintu surga maupun pintu neraka. “Wa nafsiw wamaa sawwaahaa, fa alhamahaa fujurahaa wa taqwaahaa, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” Demikian yang tercatat dalam firman-Nya, QS. Al-Syams: 91/8. Maka, manakah yang akan ditingkatkan dan manakah yang akan dipendam dan dihilangkan. Kita sendiri yang harus berusaha seraya memohon kepada hidayah-Nya, memohonnya melalui shalat. Wallahu a’lam.

Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, kami bertiga pamit undur diri kemudian berlanjut menunaikan shalat Maghrib di masjid beliau. Seusai dari semua keperluan tersebut, sembari dalam perjalanan kembali ke penginapan, hati tersentak mensyukuri pertemuan sore ini. Berharap akan pertemuan pada kesempatan berikutnya.

 

Read 21 times
Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

rahmatpambudi@ump.ac.id

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.