This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Wednesday, 04 October 2017 10:48

Setiap Muslim itu Da’i

Written by
Rate this item
(0 votes)

 Achmad Husain, S.Ag

Dalam berdakwah, seorang da’i menghadapi tantangan beraneka ragam bentuknya,  baik bentuk klasik: bisa pada penolakan, cibiran, cacian, ataupun teror bahkan sampai pada tataran fitnah. Banyak para da’i mampu mengatasi tantangan atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya sehingga tersingkir dari kancah dakwah. Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah (da’i) bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi. Allah swt. telah memberikan rambu-rambu kepada kita tentang hal ini:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka sedang dibiarkan (saja) mengatakan, “ Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji? Sesungguhnya kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang yang berdusta.” (al-Ankabut: 2-3).

Ujian tersebut sesungguhnya diperlukan oleh orang-orang mukmin justru untuk meningkatkan kapasitasnya. Adanya ujian dan kendala-kendala riil ditengah kehidupan ini akan terbukti siapa saja yang yang benar pengakuannya dan siapa pula yang dusta. Beberapa ujian yang sering dijumpai da’i dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidak seimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri. Belajar dari hal tersebut, para aktivis dakwah harus mampu menyesuaikan dan mengelola kendala internal dalam dirinya terlebih dahulu, agar bisa optimal menunaikan amanah dakwah. Problematika internal aktivis dakwah meliputi:

Gejolak Kejiwaan: Para aktivis dakwah adalah manusia biasa yang lengkap seluruh unsur kemanusiaannya. Wajar jika mereka memiliki permasalahan kejiwaan. Mereka bisa merasakan sedih, senang, kecewa, dan bangga. Bahkan, terkadang bingung, cemas, gelisah, marah, namun ada saat tenang dan gembira. Di dalam diri manusia terdapat ada banyak potensi yang mengarahkan kepada kebaikan manusia, namun ada juga yang mengarah pada potensi yang membawanya kepada keburukan, dengan demikian tergantung dari masing-masing manusia dalam mengalokasikan potensi tersebut.Sebagai manusia biasa, setiap aktivitas dakwah memiliki peluang untuk mengalami berbagai gejolak dalam dirinya. Jika tidak dikelola secara tepat, maka gejolak ini bisa berdampak negative dalam kegiatan dakwahnya, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menghancurkan citra aktivitas dan dakwah itu sendiri.

Gejolak Amarah: Kadang gejolak jiwa di sisi yang lain muncul ketika menangani kasus-kasus medan dakwah. Permasalahan dakwah sering memancing munculnya gejolak kemarahan dalam jiwa para aktivis dakwah, yang jika tak terkendali akan memunculkan letupan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Pada kondisi seperti ini, perasaan yang lebih dominan, pertimbangan akal sehat bahkan perhitungan manhaj dakwah menjadi terabaikan. Tentu saja hal ini merupakan peluang bagi munculnya penyimpangan manhajiyyah dalam gerak dakwah, sekaligus membuka celah tak menguntungkan bagi kondisi juru dakwah itu sendiri. Kadang-kadang gejolak kejiwaan yang muncul pada diri juru dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik di medan dakwah maupun pada penataan gerak dakwah itu, membuka peluang kearah terjadinya fitnah di kalangan muslim sendiri. Apabila gejolak ini tidak segera diselesaikan, bisa menimbulkan kerawanan hubungan yang membahayakan gerakan dakwah itu sendiri. Di sini tampak peranan penting seorang juru dakwah dalam menyelesaikan gejolak tersebut. Satu sisi akan memberikan peringatan, bahkan bisa jadi berupa hukuman kepada person yang melanggar. Sementara, di sisi lain mampu menyelesaikan masalah akibat gejolak yang muncul.

Gejolak Syahwat: Banyak potensi dalam setiap jiwa manusia bisa menyeretnya ke jalan kefasikan, misalnya masalah syahwat. Sebenarnya syahwat ini merupakan potensi fitrah yang dikaruniakan Allah swt. kepada manusia, namun ternyata banyak manusia yang terpeleset ke dalam jurang kehinaan dan kemaksiatan karena menuruti atau memperturutkan keinginan syahwatnya. Bukan hanya manusia, bahkan para pengemban aktivis dakwah juga memiliki peluang terjebak dalam gejolak syahwat. Allah swt. syahwat sebagai sebuah kenyataan naluriyah, setiap manusia memilikinya: Dijadikan indah pada pandangan manusiakecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik / surga (Ali-Imran, 14). Gejolak kejiwaan dalam hal syahwat ini muncul dengan sendirinya tanpa mengenal batas usia, meskipun akan tampak lebih kuat terjadi pada usia muda. Oleh karena itu bagi aktivis dakwah atau juru dakwah, gejolak ini harus ditanggapi dengan serius, sebab apabila dibiarkan akan dapat menimbulkan kecendrungan yang bisa menjerumuskan.

Gejolak Heroisme: Kadang dijumpai sebuah semangat yang sangat heroik di medan perjuangan, apabila tatkala berada dalam peperangan menghadapi musuh. Semangat kuat yang muncul dari sikap heroisme para petarung adalah mengalahkan dan menaklukan musuh. Pada titik tertentu bahkan itu menjadi semacam obsesi kepahlawanan. Namun jika gejolak ini tidak diletakkan secara tepat, bisa pula berdampak negatif.

Inilah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali untuk diri ini, agar semangat berdakwah terus tumbuh diikuti dengan kematangan mental dan pemahaman yang mendalam akan ajaran Islam yang kita yakini sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Read 22 times Last modified on Wednesday, 04 October 2017 10:50
Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

rahmatpambudi@ump.ac.id

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.