This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Saturday, 16 September 2017 07:21

MERUMUSKAN KEMBALI ILMU PENGETAHUAN MODERN SEBAGAI ILMU AMALIAH DAN AMAL ILMIAH

Written by
Rate this item
(0 votes)

Merumuskan Kembali Ilmu Pengetahuan Modern Sebagai Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah

Oleh : Dr. Sriyanto M.Pd.,

Lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini, berasal dari dibangkitkannya kembali tradisi-tradisi dan peradaban Yunani Kuno. Lima periode pembagian sejarah perkembangan filsafat dan ilmu oleh Hull, semenjak Yunani Kuno sampai sekarang menimbulkan pertentangan hebat terutama tentang kebermanfaatan ilmu itu sendiri. Antara penguasa dengan para sarjana, sarjana dengan rakyat biasa (tentang tanggung jawab sosial ilmuwan), atau antara sarjana dengan sarjana sendiri. Peran inteletual Islam dalam perkembangan ilmu dan filsafat adalah jembatan penghubung antara tradisi Yunani Kuno dengan ilmu pengetahuan modern saat ini. Akan tetapi, nampaknya  sains modern sudah menjadi “agama” baru yang relatif menafikan sisi-sisi normalitas, karena sifatnya yang materiaslitik.

Manusia diberi kedudukan yang sangat tinggi karena akal, dan akal hjanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Dengan akal manusia diminta oleh Allah untuk memperhatikan kenyataan alam empiris ini. Manusia juga diberi karunia sebagai sarana pribadi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yaitu: penglihatan, pendengaran, dan hati. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana observasi, dengan bantuan akal, mampu mengamati dan mengartikan kenyataan empiris, dan dengan hatilah proses generalisasi empiris ini akan mengarahkan manusia untuk bersyukur.

Ilmu modern hanya  terjadi atas penggunaan rasio. Rasio dapat menyaring data dari pancaindera, sehingga sangat mungkin bahwa rasio tidak terkendali dalam menghasilkan ilmu. Ilmu menjadi berat sebelah pada rasio yang menganalisis fenomena lahiriah, yang kemudian fenomena itu dikuantifikasikan. Hasilnya adalah ilmu dengan hiasan data kuantitatif yang dianggap paling absah dan, dalam penerapannya, seringkali melupakan syarat berlakunya, yakni ceteris paribus. Hal ini mengakibatkan dekadensi di segala segi kehidupan, sehingga munculnya berbagai krisis.

Dalam suatu kesinambungan derajat tertentu, umat Islam diharuskan menjadi pemikir, intelektual, ulil albab, yang tidak saja mampu berfikir, merenungkan, dan membangun teori-teori tentang kenyataan alam yang empiris ini dengan metode-metode deduktif dan induktif, tetapi juga sekaligus mampu mempertajam analisisnya dengan mengasah hati dan rasa melalui berdzikir. Metode berdzikir seperti ini akan mencapai tingkat kesadaran tinggi, karena ia tidak hanya menitikberatkan pada pengasahan rasio (penalaran) semata, tetapi juga mengasah hati dan perasaan, yang akan mampu membentuk intelektual Muslim yang tangguh, yang tidak hanya memiliki ketajaman analisis obyektif, tetapi juga analisis subyektif. Ulil albab, atau ulil ‘ilm, yang dibentuk oleh penajaman metode ilmiah induktif dan deduktif, yang akan mampu mengamati gejala dan proses alamiah yang maha rumit dan unik ini, adalah juga intelektual yang membangun kepribadiannya dengan dzikir dalam keadaan dan situasi apa pun (bahkan ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring), sehingga mampu memanfaatkan gejala, proses, dan sarana ilmiah ini untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia.

Ilmu sosial harus dibangun dengan sumber al-Quran dan hadits. Pengambilan sumbernya dapat dari buku-buku para intelektual Muslim seperti Ibn  Khaldun (Muqaddimah), al-Farabi (as-Siyasatul Madaniyah). Ilmu dalam Islam adalah hasil usaha manusia melalui akal, hati naruni, kesadaran, serta bantuan pancaindera, yang disusun secara sistematis untuk memahami fenomena-semesta ketuhanan, manusia, dan alam berdasarkan pemberutahuan al-Quran. Sejauh dapat dijangkau oleh kekuatan lahir batin manusia Muslim, dan kebenarannya dapat diuji secara empiris, untuk mendapatkan esensi yang terlepas dari hakikat yang Maha mutlak, untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Catatan akhir ini sedikit memberikan jawaban prediksi perkembangan ilmu menurut Hull pada periode kebangkitan Islam kedua, dengan merujuk pada perkembangan sejarah intelektual Islam klasik. Semoga kebangkitan Islam dalam khazanah keilmuan dapat menjadi sandaran bagi seluruh umat manusia dengan berdasarkan pada ilmu amaliah dan amal ilmiah. 

Menurut Hoesain Omar, orang-orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.  Dengan tegas Hoesain Omar menolak pendapat bahwa orang Eropa belajar filsafat Yunani tanpa perantara sarjana Islam, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Analytica Posteriora, Hermeneutica, Categories dan Isagoge karya Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.  Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris,  tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam. Perkembangan sains modern saat ini, sumbangan yang diberikan para intelektual Islam sangat besar. Intelektual Islam yang telah memperkaya khazanah keilmuan banyak dibicarakan dan pemikiran-pemikirannya menjadi rujukan dan referensi dalam diskusi-diskusi ilmiah.

Diantara para sarjana Muslim yang telah berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780 – 848 M) dianggap sebagai ilmuwan terbesar dalam sejarah intelektual Islam dalam bidang ilmu pasti. Al-Kindi (wafat sekitar 870 M/257 H). Al-Kindi berjasa dalam meng-islam-kan fikiran-fikiran Barat mlalui karya-karyanya. Al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tetapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berfikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida filsafat dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Al-Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berfikir logis (logika) kepada dunia Islam.Ibn Sina adalah seorang penulis besar yang luar biasa produktif, dan karenanya ia adalah yang terbesar di antara sekalian pemikir yang menuliskan karya filsafatnya dalam bahasa Arab. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair.  Al-Ghazali diakui sebagai pemikir paling hebat dan paling orisinil tidak saja di kalangan sejarah intelektual Islam, tetapi juga memiliki pengaruh yang kuat karena peranannya  menata dan mengukuhkan ajaran-ajaran keagamaan. Kemudian Ibn Rusyd yang telah membangkitkan kembali filsafat Yunani.

Ibn Taimiyyah (wafat 1328 M) dengan sangat kompeten membongkar kepalsuan logika Aristotelian (ilmu manthiq) yang banyak menguasai jalan fikiran para sarjana Islam. Setelah beberapa waktu lamanya dunia Islam tampil seorang ilmuwan yang sangat cemerlang dan termasuk paling dihargai oleh dunia intelektual modern, yaitu Ibn Khaldun (wafat 1406). Dalam opus magnum-nya Kitab al-Ibar, dengan pendahuluannya Muqaddimah, Ibn Khaldun membuat catatan tentang persepsinya mengenai pembagian ilmu pengetahuan saat itu dan tentang bagaimana ia secara fundamental mengkritik filsafat.Kebetulan atau tidak, bahwa setelah kepergian pemikir besar tersebut, dunia Islam kenyataannya berada dalam hubungan yang tidak menguntungkan terutama dengan dunia luar Islam, khususnya Eropa.

Setelah memudarnya pengaruh Islam dalam ilmu pengetahuan, pengaruh Barat mulai menunjukkan perkembangannya. Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang hanya berdasarkan pada rasio saat ini semakin menjauh dari dimensi ruhani, sehingga peradaban yang dibangun hanya mengutamakan sisi materialism. Sedangkan ilmu dalam Islam adalah hasil usaha manusia melalui akal, hati naruni, kesadaran, serta bantuan pancaindera, yang disusun secara sistematis untuk memahami fenomena-semesta ketuhanan, manusia, dan alam berdasarkan pemberitahuan al-Quran.Ulil albab, atau ulil ‘ilm, yang dibentuk oleh penajaman metode ilmiah induktif dan deduktif, yang akan mampu mengamati gejala dan proses alamiah yang maha rumit dan unik ini, adalah juga intelektual yang membangun kepribadiannya dengan dzikir dalam keadaan dan situasi apa pun (bahkan ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring), sehingga mampu memanfaatkan gejala, proses, dan sarana ilmiah iniuntuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia.

 

Read 19 times
Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

rahmatpambudi@ump.ac.id

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.