This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
Friday, 25 August 2017 07:20

Kurban dan Kesalehan Sosial

Written by
Rate this item
(0 votes)

Kurban dan Kesalehan Sosial

“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”

(QS. Al Kautsar [108] : 2)

Bagi umat Islam yang mampu, ibadah kurban hukumnya wajib tiap tahun, menurut imam Hanafi. Tapi jumhur ulama menyebutkan hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Kurban merupakan salah satu ibadah tertua yang ada. Sesuai perintah Allah SWT dalam ayat di atas. Kurban dianjurkan kepada para nabi mulai dari zaman nabi Adam sampai sekarang.

Ibadah kurban merupakan upaya menghidupkan sunah para nabi Allah SWT, dengan menyembelih hewan kurban dari pemberian-Nya kepada manusia sebagai ungkapan rasa syukur. Kemurnian ketaatan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya adalah bukti syukur tertinggi.

Di antara hikmah berkurban adalah mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Kenikmatan itu jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorang pun dapat menghitungnya. (QS. Ibrahim [14] : 34)

Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang kurban ini telah diungkapkan dalam Al Qur’an ,

“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”(QS. Al Hajj [22] : 36)

Hikmah berikutnya adalah menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari 10 hingga 13 Dzulhijjah, yakni hari Nahar (penyembelihan) dan hari-hari Tasyriq. Dengan setulusnya kita bersaksi bahwa hanya Allah lah yang Maha Besar, Maha Esa, Maha Perkasa, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Kebahagiaan akan tercapai bila manusia menyadari fungsi keberadaannya di dunia ini hanyalah untuk menjadi hamba Allah SWT, bukan hamba dunia, atau pun hamba setan. (QS. Adz Dzariyat [51]  :56)

Di samping itu semua, Hari Raya Kurban berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Itu terlihat ketika pemotongan hewan yang akan dikurbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul.

Mereka satu sama lainnya meluapkan rasa gembira dan suka cita. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi ekonomi sekarang ini, sangat tinggi nilainya , ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Ibadah kurban menegaskan Islam adalah agama yang berdimensi sosial. Karena itu, orang Islam yang mampu tapi enggan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, dianggap sebagai pendusta agama. (QS. Al Ma’un [107] : 1-3)

Dan disebutkan juga riwayat dari Nabi SAW : “Barangsiapa yang mendapati keluasan rizki tapi tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad no. 8273, Ibnu Majah no. 3123)

Wallaahu a’lam

 

M. Muammar, Lc – Staff LPPI

 

Read 21 times
Rahmat Pambudi, S.Kom

IT Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

rahmatpambudi@ump.ac.id

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.