This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • GooglePlus
  • Linkedin
 
ARTIKEL

ARTIKEL (6)

Tuesday, 17 October 2017 00:24

Meninggalkan Sesuatu Karena Allah

Written by

Dewi Rusliyani, M.Pd.I 

LPPI UMP

Di antara hadist  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan  ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, yaitu; “barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang (jauh) lebih baik.”

Betapa sulit manusia untuk meninggalkan sesuatu karena Allah. Terlebih ketika sudah menjadi kebiasaan yang dirinya menilai itu adalah hal yang benar. Tidak sedikit pula dari manusia yang menyukai sesuatu, yang belum tentu hal tersebut baik baginya, seperti yang ada dalam firman-Nya pada surat Al-Baqarah; 114 yang artinya; “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Maka salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan diri untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya bahkan menjadikannya tergolong orang-orang yang merugi. Karena hal ini adalah salah satu tanda dari kebaikan keislaman seseorang, seperti yang ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318, yaitu; “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”. Dan dalam usaha meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya hendaklah diniatkan murni karena Allah dan bukan yang lain, karena perubahan seseorang menjadi baikpun tidak sedikit yang diniatkan karena seseorang yang dicintainya atau karena teman dekatnya, atau karena seseorang yang dianggap berperan penting dalam hidupnya sehingga dengan mudah dia akan mengulangi perbuatan buruknya ketika tidak berada diantara orang-orang tersebut. Itu semua tidaklah benar. Tapi berubahlah karena Allah Ta’ala.

Hikmah yang terpenting yang bisa kita ambil adalah hendaklah semua manusia yakin bahwa segala sesuatu yang kita tinggalkan  murni karena Allah Ta’ala tidaklah akan membuatnya rugi dan menyesal, tapi sebaliknya seseorang tersebut akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari apa yang dikehendaki oleh manusia.

Ketika seseorang meninggalkan riba karena Allah, maka Allah akan membukakan keberkahan pada rezekinya.

Ketika seseorang meninggalkan dorongan syahwatnya karena Allah, maka Allah Ta’ala akan ganti dengan rasa cinta kepada-Nya, manisnya beribadah hanya kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, yang itu semua mengalahkan berbagai kelezatan duniawi, (QS. Al-Anbiyaa’: 91)

Ketika seseorang meninggalkan sifat pelit karena Allah, maka ia akan menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. At Taghabun: 16)

Ketika seseorang meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan yang lain karena Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. (HR. Muslim).

Ketika seseorang meninggalkan sifat sombong dan memilih tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan membuat ia meninggikan derajatnya di dunia. (HR. Muslim.

Dari beberapa contoh diatas, merupakan bukti bahwa janji Allah untuk menggantikan dengan yang lebih baik adalah BENAR.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang mampu meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala.

Wallaahu a’lam

Merumuskan Kembali Ilmu Pengetahuan Modern Sebagai Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah

Oleh : Dr. Sriyanto M.Pd.,

Lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini, berasal dari dibangkitkannya kembali tradisi-tradisi dan peradaban Yunani Kuno. Lima periode pembagian sejarah perkembangan filsafat dan ilmu oleh Hull, semenjak Yunani Kuno sampai sekarang menimbulkan pertentangan hebat terutama tentang kebermanfaatan ilmu itu sendiri. Antara penguasa dengan para sarjana, sarjana dengan rakyat biasa (tentang tanggung jawab sosial ilmuwan), atau antara sarjana dengan sarjana sendiri. Peran inteletual Islam dalam perkembangan ilmu dan filsafat adalah jembatan penghubung antara tradisi Yunani Kuno dengan ilmu pengetahuan modern saat ini. Akan tetapi, nampaknya  sains modern sudah menjadi “agama” baru yang relatif menafikan sisi-sisi normalitas, karena sifatnya yang materiaslitik.

Manusia diberi kedudukan yang sangat tinggi karena akal, dan akal hjanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Dengan akal manusia diminta oleh Allah untuk memperhatikan kenyataan alam empiris ini. Manusia juga diberi karunia sebagai sarana pribadi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yaitu: penglihatan, pendengaran, dan hati. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana observasi, dengan bantuan akal, mampu mengamati dan mengartikan kenyataan empiris, dan dengan hatilah proses generalisasi empiris ini akan mengarahkan manusia untuk bersyukur.

Ilmu modern hanya  terjadi atas penggunaan rasio. Rasio dapat menyaring data dari pancaindera, sehingga sangat mungkin bahwa rasio tidak terkendali dalam menghasilkan ilmu. Ilmu menjadi berat sebelah pada rasio yang menganalisis fenomena lahiriah, yang kemudian fenomena itu dikuantifikasikan. Hasilnya adalah ilmu dengan hiasan data kuantitatif yang dianggap paling absah dan, dalam penerapannya, seringkali melupakan syarat berlakunya, yakni ceteris paribus. Hal ini mengakibatkan dekadensi di segala segi kehidupan, sehingga munculnya berbagai krisis.

Dalam suatu kesinambungan derajat tertentu, umat Islam diharuskan menjadi pemikir, intelektual, ulil albab, yang tidak saja mampu berfikir, merenungkan, dan membangun teori-teori tentang kenyataan alam yang empiris ini dengan metode-metode deduktif dan induktif, tetapi juga sekaligus mampu mempertajam analisisnya dengan mengasah hati dan rasa melalui berdzikir. Metode berdzikir seperti ini akan mencapai tingkat kesadaran tinggi, karena ia tidak hanya menitikberatkan pada pengasahan rasio (penalaran) semata, tetapi juga mengasah hati dan perasaan, yang akan mampu membentuk intelektual Muslim yang tangguh, yang tidak hanya memiliki ketajaman analisis obyektif, tetapi juga analisis subyektif. Ulil albab, atau ulil ‘ilm, yang dibentuk oleh penajaman metode ilmiah induktif dan deduktif, yang akan mampu mengamati gejala dan proses alamiah yang maha rumit dan unik ini, adalah juga intelektual yang membangun kepribadiannya dengan dzikir dalam keadaan dan situasi apa pun (bahkan ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring), sehingga mampu memanfaatkan gejala, proses, dan sarana ilmiah ini untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia.

Ilmu sosial harus dibangun dengan sumber al-Quran dan hadits. Pengambilan sumbernya dapat dari buku-buku para intelektual Muslim seperti Ibn  Khaldun (Muqaddimah), al-Farabi (as-Siyasatul Madaniyah). Ilmu dalam Islam adalah hasil usaha manusia melalui akal, hati naruni, kesadaran, serta bantuan pancaindera, yang disusun secara sistematis untuk memahami fenomena-semesta ketuhanan, manusia, dan alam berdasarkan pemberutahuan al-Quran. Sejauh dapat dijangkau oleh kekuatan lahir batin manusia Muslim, dan kebenarannya dapat diuji secara empiris, untuk mendapatkan esensi yang terlepas dari hakikat yang Maha mutlak, untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Catatan akhir ini sedikit memberikan jawaban prediksi perkembangan ilmu menurut Hull pada periode kebangkitan Islam kedua, dengan merujuk pada perkembangan sejarah intelektual Islam klasik. Semoga kebangkitan Islam dalam khazanah keilmuan dapat menjadi sandaran bagi seluruh umat manusia dengan berdasarkan pada ilmu amaliah dan amal ilmiah. 

Menurut Hoesain Omar, orang-orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.  Dengan tegas Hoesain Omar menolak pendapat bahwa orang Eropa belajar filsafat Yunani tanpa perantara sarjana Islam, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Analytica Posteriora, Hermeneutica, Categories dan Isagoge karya Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.  Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropa, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris,  tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam. Perkembangan sains modern saat ini, sumbangan yang diberikan para intelektual Islam sangat besar. Intelektual Islam yang telah memperkaya khazanah keilmuan banyak dibicarakan dan pemikiran-pemikirannya menjadi rujukan dan referensi dalam diskusi-diskusi ilmiah.

Diantara para sarjana Muslim yang telah berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780 – 848 M) dianggap sebagai ilmuwan terbesar dalam sejarah intelektual Islam dalam bidang ilmu pasti. Al-Kindi (wafat sekitar 870 M/257 H). Al-Kindi berjasa dalam meng-islam-kan fikiran-fikiran Barat mlalui karya-karyanya. Al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tetapi dengan kompetensi, kreativitas, kebebasan berfikir dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida filsafat dalam Islam yang sejak itu terus dibangun dengan tekun. Al-Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berfikir logis (logika) kepada dunia Islam.Ibn Sina adalah seorang penulis besar yang luar biasa produktif, dan karenanya ia adalah yang terbesar di antara sekalian pemikir yang menuliskan karya filsafatnya dalam bahasa Arab. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair.  Al-Ghazali diakui sebagai pemikir paling hebat dan paling orisinil tidak saja di kalangan sejarah intelektual Islam, tetapi juga memiliki pengaruh yang kuat karena peranannya  menata dan mengukuhkan ajaran-ajaran keagamaan. Kemudian Ibn Rusyd yang telah membangkitkan kembali filsafat Yunani.

Ibn Taimiyyah (wafat 1328 M) dengan sangat kompeten membongkar kepalsuan logika Aristotelian (ilmu manthiq) yang banyak menguasai jalan fikiran para sarjana Islam. Setelah beberapa waktu lamanya dunia Islam tampil seorang ilmuwan yang sangat cemerlang dan termasuk paling dihargai oleh dunia intelektual modern, yaitu Ibn Khaldun (wafat 1406). Dalam opus magnum-nya Kitab al-Ibar, dengan pendahuluannya Muqaddimah, Ibn Khaldun membuat catatan tentang persepsinya mengenai pembagian ilmu pengetahuan saat itu dan tentang bagaimana ia secara fundamental mengkritik filsafat.Kebetulan atau tidak, bahwa setelah kepergian pemikir besar tersebut, dunia Islam kenyataannya berada dalam hubungan yang tidak menguntungkan terutama dengan dunia luar Islam, khususnya Eropa.

Setelah memudarnya pengaruh Islam dalam ilmu pengetahuan, pengaruh Barat mulai menunjukkan perkembangannya. Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang hanya berdasarkan pada rasio saat ini semakin menjauh dari dimensi ruhani, sehingga peradaban yang dibangun hanya mengutamakan sisi materialism. Sedangkan ilmu dalam Islam adalah hasil usaha manusia melalui akal, hati naruni, kesadaran, serta bantuan pancaindera, yang disusun secara sistematis untuk memahami fenomena-semesta ketuhanan, manusia, dan alam berdasarkan pemberitahuan al-Quran.Ulil albab, atau ulil ‘ilm, yang dibentuk oleh penajaman metode ilmiah induktif dan deduktif, yang akan mampu mengamati gejala dan proses alamiah yang maha rumit dan unik ini, adalah juga intelektual yang membangun kepribadiannya dengan dzikir dalam keadaan dan situasi apa pun (bahkan ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring), sehingga mampu memanfaatkan gejala, proses, dan sarana ilmiah iniuntuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia.

 

Friday, 25 August 2017 07:20

Kurban dan Kesalehan Sosial

Written by

Kurban dan Kesalehan Sosial

“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”

(QS. Al Kautsar [108] : 2)

Bagi umat Islam yang mampu, ibadah kurban hukumnya wajib tiap tahun, menurut imam Hanafi. Tapi jumhur ulama menyebutkan hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Kurban merupakan salah satu ibadah tertua yang ada. Sesuai perintah Allah SWT dalam ayat di atas. Kurban dianjurkan kepada para nabi mulai dari zaman nabi Adam sampai sekarang.

Ibadah kurban merupakan upaya menghidupkan sunah para nabi Allah SWT, dengan menyembelih hewan kurban dari pemberian-Nya kepada manusia sebagai ungkapan rasa syukur. Kemurnian ketaatan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya adalah bukti syukur tertinggi.

Di antara hikmah berkurban adalah mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Kenikmatan itu jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorang pun dapat menghitungnya. (QS. Ibrahim [14] : 34)

Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang kurban ini telah diungkapkan dalam Al Qur’an ,

“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”(QS. Al Hajj [22] : 36)

Hikmah berikutnya adalah menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari 10 hingga 13 Dzulhijjah, yakni hari Nahar (penyembelihan) dan hari-hari Tasyriq. Dengan setulusnya kita bersaksi bahwa hanya Allah lah yang Maha Besar, Maha Esa, Maha Perkasa, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Kebahagiaan akan tercapai bila manusia menyadari fungsi keberadaannya di dunia ini hanyalah untuk menjadi hamba Allah SWT, bukan hamba dunia, atau pun hamba setan. (QS. Adz Dzariyat [51]  :56)

Di samping itu semua, Hari Raya Kurban berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Itu terlihat ketika pemotongan hewan yang akan dikurbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul.

Mereka satu sama lainnya meluapkan rasa gembira dan suka cita. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi ekonomi sekarang ini, sangat tinggi nilainya , ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Ibadah kurban menegaskan Islam adalah agama yang berdimensi sosial. Karena itu, orang Islam yang mampu tapi enggan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, dianggap sebagai pendusta agama. (QS. Al Ma’un [107] : 1-3)

Dan disebutkan juga riwayat dari Nabi SAW : “Barangsiapa yang mendapati keluasan rizki tapi tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad no. 8273, Ibnu Majah no. 3123)

Wallaahu a’lam

 

M. Muammar, Lc – Staff LPPI

 

Thursday, 05 October 2017 04:38

Menjadi Masjid

Written by

Bayu Dwi Cahyono, M.Pd.

LPPI UMP

Menyitir salah satu judul menarik dalam bukunya Dr. Zaky Najib Mahmud, Ru’yahIslamiyah, salah satu tokoh pemikir Mesir ini menulis “Anaal-Masjid waas-Saajid” yang bermakna “Saya adalah masjid dan sekaligus seorang yang bersujud”. Bukan tanpa makna, kalimat ini ternyata jika direnungi berulang-ulang membawa sebuah jembatan hikmah bagi kita.

 

Dalam awal penciptaannya, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu dan sanggup menerima beban dari Sang Pencipta dari pada makhluk lainnya seperti gunung, langit, dan pepohonan. Pun menjadi manusia berarti siap menerima tugas utama manusia,sebagaimana yang tertera dalam surat Adz Dzariat ayat 56 yang berarti :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”.

Dalam hal ini, berarti menjadi manusia adalah derajat istimewa yang diberikan Allah SWT. Bagaimana tidak, jika tanah dan gunung saja tak mampu menanggung beban yang diberikan Tuhan, manusia dipercaya mampu menanggungnya. Dengan ini secara tidak langsung tugas manusia adalah menjadi abdi yang dipercaya oleh Tuhan.

Tugas seorang abdi adalah mengabdi, melayani, dan tunduk. Seorang abdi setiap waktunya adalah menjalankan perintah tuannya. Seorang abdi juga seorang yang setia kepada tuannya. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT?, Bagaimana kita sebagai manusia menjalankan tugas ibadah seperti yang termaktub dalam kitab suci “illa liya’buduun”?.

Kalau ditelaah dari maksud ayat tersebut tugas manusia dan jin tidak lain dan tidak bukan hanya beribadah. Lalu ibadah seperti apa? Apakah kita shalat setiap saat? Puasa setiap saat?

Dari sinilah sebuah perenungan datang. Sebagai umat muslim yang diistimewakan Allah SWT laiknya merenungkan ini. Allah SWT menjadikan kita hambaNya bukan budakNya artinya adalah kita diberi kesempatan untuk berfikir bahkan menjadi kewajiban kita untuk berfikir setiap hikmah yang terkandung dalam perintahNya.

Perintah beribadah adalah salah satu perihal yang wajib kita renungkan. Bukan hanya sekedar jasad yang melaksanakan lalu meninggalkan kekeringan. Ibadah-ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat telah ditentukan waktunya, lalu untuk sisanya bagaimana? Untuk itu kalimat “Saya masjid sekaligus seorang yang sujud” sangat pas menjadi jawabannya.

Menjadi masjid berarti menjadi tempat untuk beribadah. Meleburkan diri dalam ketundukan kepada Allah SWT. Masjid tak pernah kosong dari asma Allah SWT. Sudah menjadi masjid yang tak pernah kosong dari mengingat Tuhannya ditambah pula menjadi seorang yang sujud. Bayangkan betapa sempurnanya ia menjadi hamba Allah SWT. Seandainya itu juga berlaku bagi kita.

Kita seringkali melupakan Tuhan. Kita hanya mengingatNya tak lebih dari lima kali sehari semalam. Itupun hanya waktu yang kita sisakan. Bahkan acapkali ketika kita berhadapan denganNya kita masih memikirkan dunia. Ibadah bukan sekedar shalat dan puasa, jika kita masukkan esensi ibadah dalam keseharian kita seperti bekerja, membaca buku, membajak sawah maka setiap detik kita telah melakukan ibadah. Dalam artian ketika kita beraktifitas kita tetap ingat bahwa tugas utama kita menjadi abdi Tuhan. Jika setiap detik kita mengingat Allah SWT jadilah kita seperti masjid sekaligus menjadi seorang yang sujud. Namun sayangnya seringkali kita temui bahkan orang yang di dalam masjid sekalipun, ia tak ingat Tuhannya. Semoga itu bukan kita, semoga.(*)

 

Shalat dan Dua Potensi Manusia: Sebuah Nasehat Petang

Istianah, Lc., M.Hum.

Kota Malang. Pukul 16.05 kami memasuki halaman rumah yang juga menjadi bagian dari halaman masjid berwarna hijau. Suasana bising dari lalu lalang kendaraan di jalan yang berada tepat di depan kedua bangunan tersebut menjadi kesan pertama, tetapi ada nuansa tenang dan sejuk yang sudah sangat terasa di hati begitu saya dan 2 rekan lainnya turun dari kendaraan dan berjalan menuju gerbang rendah dari rumah yang kami tuju. Bel pintu rumah saya tekan satu kali. Tanpa menunggu lama terdengar suara pemilik rumah membukakan pintu, menghampiri kami dan langsung menyapa dengan sangat grapyak. Keramahannya menyenangkan, langsung membuat betah. Beliau adalah Prof. Imam Suprayogo.

Sore tersebut merupakan kesempatan ketiga bagi saya bertemu beliau secara langsung, tapi menjadi yang pertama kalinya berkunjung ke kediaman beliau. Selebihnya saya hanya bisa berjumpa dan mendengar kata-katanya melalui tulisan yang beliau unggah setiap hari. Untaian hikmah dan nasehat.

Obrolan dibuka dengan ringan, kami saling bertanya kabar, kesehatan, kesibukan, hingga yang cukup serius mengenai kegalauan atas akhlak, perilaku dan watak pendidik dan peserta didik saat ini.

Menurut beliau, karakter, perilaku, watak, adalah hal yang harus menjadi garapan utama kita terhadap generasi harapan, setelah itu baru bisa terjadi revolusi mental. “Kita memang harus memperbaiki akhlak bangsa. Tapi apakah bisa? Sampai saat ini saya belum putus asa, akan tetapi sepertinya dari dulu pembinaan akhlak tidak bisa dididik ditempuh melalui lembaga pendidikan.” Ujar beliau sembari terus mengajak kami bertiga untuk memperhatikan hal yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan melihat aspek kejujuran pada peserta didik, karena sikap jujur merupakan indikator dari akhlak yang baik. Kita bandingkan tingkat kejujuran anak bangsa dengan melihat dan membandingkan anak didik mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi, yang memiliki akhlak paling jujur adalah anak PAUD. Sedangkan sebaliknya, yang paling nakal di antara mereka yaitu yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ujian pun dijaga agar tidak nyontek. Belum lagi copy paste yang kerap dilakukan oleh mahasiswa.

Pertanyaan kemudian yaitu apakah kejujuran tersebut bisa didapat melalui kursus? Melalui membaca buku? Apakah bisa? Jawabannya tentu saja tidak! Karena akhlak hanya ada di dalam hati. Sedangkan hati merupakan ruh. Apakah ruh itu? Dalam Al-Qur’an disebutkan ruh adalah min amri Rabbi, ia merupakan wilayah Allah, bukan wilayah manusia. Akan tetapi untuk memasuki wilayah tersebut, Allah telah memberikan saluran dan jalurnya, yaitu melalui shalat. Allah mensyariatkan shalat sebagai tempat menempa akhlak.

Beliau kemudian membuka lembaran Al-Qur’an. Beberapa ayat dan terjemahnya dibacakan kepada kami. Kemudian Prof. Imam menyampaikan, pintu neraka amatlah banyak, “untuk memasukinya tidak perlu menjadi Yahudi, tak perlu juga menunggu Israel memasuki negara Indonesia. Hanya dengan menjadi seorang muslim pun kita sebenarnya sudah bisa memasukinya.” Kita sudah memiliki akses pintu-pintu tersebut.

Benar. Subhanallah.Dan dalam keadaan masih terkejut mendengarnya, saya mengamini ucapan beliau. Kejujuran dan ketidakjujuran. Pintu surga dan pintu neraka.Masing-masing dari kita sejak awal memang telah diciptakan berbekal dua potensi untuk mengakses baik pintu surga maupun pintu neraka. “Wa nafsiw wamaa sawwaahaa, fa alhamahaa fujurahaa wa taqwaahaa, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” Demikian yang tercatat dalam firman-Nya, QS. Al-Syams: 91/8. Maka, manakah yang akan ditingkatkan dan manakah yang akan dipendam dan dihilangkan. Kita sendiri yang harus berusaha seraya memohon kepada hidayah-Nya, memohonnya melalui shalat. Wallahu a’lam.

Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, kami bertiga pamit undur diri kemudian berlanjut menunaikan shalat Maghrib di masjid beliau. Seusai dari semua keperluan tersebut, sembari dalam perjalanan kembali ke penginapan, hati tersentak mensyukuri pertemuan sore ini. Berharap akan pertemuan pada kesempatan berikutnya.

 

Wednesday, 04 October 2017 10:48

Setiap Muslim itu Da’i

Written by

 Achmad Husain, S.Ag

Dalam berdakwah, seorang da’i menghadapi tantangan beraneka ragam bentuknya,  baik bentuk klasik: bisa pada penolakan, cibiran, cacian, ataupun teror bahkan sampai pada tataran fitnah. Banyak para da’i mampu mengatasi tantangan atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya sehingga tersingkir dari kancah dakwah. Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah (da’i) bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi. Allah swt. telah memberikan rambu-rambu kepada kita tentang hal ini:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka sedang dibiarkan (saja) mengatakan, “ Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji? Sesungguhnya kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang yang berdusta.” (al-Ankabut: 2-3).

Ujian tersebut sesungguhnya diperlukan oleh orang-orang mukmin justru untuk meningkatkan kapasitasnya. Adanya ujian dan kendala-kendala riil ditengah kehidupan ini akan terbukti siapa saja yang yang benar pengakuannya dan siapa pula yang dusta. Beberapa ujian yang sering dijumpai da’i dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidak seimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri. Belajar dari hal tersebut, para aktivis dakwah harus mampu menyesuaikan dan mengelola kendala internal dalam dirinya terlebih dahulu, agar bisa optimal menunaikan amanah dakwah. Problematika internal aktivis dakwah meliputi:

Gejolak Kejiwaan: Para aktivis dakwah adalah manusia biasa yang lengkap seluruh unsur kemanusiaannya. Wajar jika mereka memiliki permasalahan kejiwaan. Mereka bisa merasakan sedih, senang, kecewa, dan bangga. Bahkan, terkadang bingung, cemas, gelisah, marah, namun ada saat tenang dan gembira. Di dalam diri manusia terdapat ada banyak potensi yang mengarahkan kepada kebaikan manusia, namun ada juga yang mengarah pada potensi yang membawanya kepada keburukan, dengan demikian tergantung dari masing-masing manusia dalam mengalokasikan potensi tersebut.Sebagai manusia biasa, setiap aktivitas dakwah memiliki peluang untuk mengalami berbagai gejolak dalam dirinya. Jika tidak dikelola secara tepat, maka gejolak ini bisa berdampak negative dalam kegiatan dakwahnya, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menghancurkan citra aktivitas dan dakwah itu sendiri.

Gejolak Amarah: Kadang gejolak jiwa di sisi yang lain muncul ketika menangani kasus-kasus medan dakwah. Permasalahan dakwah sering memancing munculnya gejolak kemarahan dalam jiwa para aktivis dakwah, yang jika tak terkendali akan memunculkan letupan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Pada kondisi seperti ini, perasaan yang lebih dominan, pertimbangan akal sehat bahkan perhitungan manhaj dakwah menjadi terabaikan. Tentu saja hal ini merupakan peluang bagi munculnya penyimpangan manhajiyyah dalam gerak dakwah, sekaligus membuka celah tak menguntungkan bagi kondisi juru dakwah itu sendiri. Kadang-kadang gejolak kejiwaan yang muncul pada diri juru dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik di medan dakwah maupun pada penataan gerak dakwah itu, membuka peluang kearah terjadinya fitnah di kalangan muslim sendiri. Apabila gejolak ini tidak segera diselesaikan, bisa menimbulkan kerawanan hubungan yang membahayakan gerakan dakwah itu sendiri. Di sini tampak peranan penting seorang juru dakwah dalam menyelesaikan gejolak tersebut. Satu sisi akan memberikan peringatan, bahkan bisa jadi berupa hukuman kepada person yang melanggar. Sementara, di sisi lain mampu menyelesaikan masalah akibat gejolak yang muncul.

Gejolak Syahwat: Banyak potensi dalam setiap jiwa manusia bisa menyeretnya ke jalan kefasikan, misalnya masalah syahwat. Sebenarnya syahwat ini merupakan potensi fitrah yang dikaruniakan Allah swt. kepada manusia, namun ternyata banyak manusia yang terpeleset ke dalam jurang kehinaan dan kemaksiatan karena menuruti atau memperturutkan keinginan syahwatnya. Bukan hanya manusia, bahkan para pengemban aktivis dakwah juga memiliki peluang terjebak dalam gejolak syahwat. Allah swt. syahwat sebagai sebuah kenyataan naluriyah, setiap manusia memilikinya: Dijadikan indah pada pandangan manusiakecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik / surga (Ali-Imran, 14). Gejolak kejiwaan dalam hal syahwat ini muncul dengan sendirinya tanpa mengenal batas usia, meskipun akan tampak lebih kuat terjadi pada usia muda. Oleh karena itu bagi aktivis dakwah atau juru dakwah, gejolak ini harus ditanggapi dengan serius, sebab apabila dibiarkan akan dapat menimbulkan kecendrungan yang bisa menjerumuskan.

Gejolak Heroisme: Kadang dijumpai sebuah semangat yang sangat heroik di medan perjuangan, apabila tatkala berada dalam peperangan menghadapi musuh. Semangat kuat yang muncul dari sikap heroisme para petarung adalah mengalahkan dan menaklukan musuh. Pada titik tertentu bahkan itu menjadi semacam obsesi kepahlawanan. Namun jika gejolak ini tidak diletakkan secara tepat, bisa pula berdampak negatif.

Inilah hal-hal yang perlu kita renungkan kembali untuk diri ini, agar semangat berdakwah terus tumbuh diikuti dengan kematangan mental dan pemahaman yang mendalam akan ajaran Islam yang kita yakini sebagai rahmatan lil ‘alamiin.